Banyak Penggilingan Padi Jateng Tutup karena Paceklik

Djoko Sardjono    •    Kamis, 30 Aug 2018 13:38 WIB
panganharga beras
Banyak Penggilingan Padi Jateng Tutup karena Paceklik
Ilustrasi beras. Foto: Medcom.id/Kuntoro Tayubi

Klaten: Sejumlah perusahaan penggilingan padi di wilayah eks karesidenan Surakarta, Jawa Tengah, berhenti beroperasi. Mereka  kesulitan mendapat pasokan gabah pada musim paceklik sekarang ini.

"Tutup. Karena, tidak ada yang digiling," kata Riyanto Joko Nugroho, Wakil Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pedagang Beras Indonesia (Perpadi) Jawa Tengah, di kantornya, Kamis 30 Agustus 2018.

Joko mengakui tak sedikit usaha penggilingan padi terkena dampak paceklik musim kemarau tahun ini. Di kawasan Solo Raya, terdapat 300-an RMU (rice milling unit) atau penggilingan padi. Jumlah itu meliputi usaha besar sekitar 60 unit, sedang 125 unit, dan sisanya usaha skala kecil.

"Sekarang banyak RMU kecil yang tutup. Karena, produksi padi kemarau ini hanya sekitar 10 persen. Faktor itu yang menyebabkan penggilingan padi sulit mencari gabah," terang dia.

Apalagi, harga gabah tinggi saat paceklik ini. Gabah kering panen (GKP) di tingkat petani berkias Rp5.000 per kilogram dan gabah kering giling (GKG) mencapai Rp6.000 per kilogram.

Harga beras naik

Paceklik juga berdampak terhadap harga beras di pasar. Harga beras medium Pasar Induk Klaten naik sekitar Rp500-Rp1.000 per kilogram sejak pekan lalu.

Beras jenis IR-64 naik menjadi Rp10.000 per kilogram dari semula Rp9.500 per kilogram. Jenis Mamberamo naik Rp500 menjadi Rp11.000 per kilogram. Sedangkan jenis Mentik Wangi naik dari Rp11.000 menjadi Rp12.000 per kilogram.

"Harga jual beras di pasar naik. Karena, harga di penggilingan padi juga sudah naik. Apalagi, kemarau ini banyak penggilingan kehabisan stok beras," kata Maryati, pedagang beras di Pasar Induk Klaten.


(SUR)