Produk Santri dan Syariah Dikenalkan di FESyar 2018

Budi Arista Romadhoni    •    Rabu, 02 May 2018 18:07 WIB
bank indonesiaekonomi syariah
Produk Santri dan Syariah Dikenalkan di FESyar 2018
Koordinator Pemasaran Peci Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kebumen, Tri Sulistyo, menunjukkan produk santri di FESyar 2018 di Grand Majesti, Semarang, Rabu 2 Mei 2018, Medcom.id - Budi Arista

Semarang: Sebanyak 53 gerai usaha kecil menengah (UKM) berjejer di Festival Ekonomi Syariah (FESyar) di Semarang, Jawa Tengah. Mereka mengenalkan produk barang dan jasa masing-masing, mulai dari biro umrah hingga perbankan syariah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jateng Hamid Ponco Wibowo mengatakan kegiatan itu merupakan kali kedua di Indonesia. Sebelumnya, acara serupa berlangsung di Jabar.

"Pemilihan Jawa Tengah sebagai tempat pelaksanaan FESyar sejalan dengan sejarah panjang Jawa Tengah sebagai pusat perkembangan peradaban Islam di Nusantara," kata Hamid di pembukaan FESyar di Grand Majesti Semarang, Rabu, 2 Mei 2018. 

Baca: Langkah BI Tingkatkan Ekonomi Syariah Regional

Hamid mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir, potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia kembali meningkat. Hal ini terindikasi dari tingginya potensi pengembangan industri halal antara lain meliputi industri makanan/minuman, pariwisata, fashion, serta industri farmasi. 

"Upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah masih menghadapi berbagai tantangan antara lain berupa masih relatif rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat umum tentang ekonomi syariah dan praktek riilnya di kehidupan bermasyarakat," ujarnya. 

Pada Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2018, tema yang diangkat yaitu Peningkatan Peran Pesantren dan Industri Halal dalam Pengembangan Ekonomi Syariah. Sehingga acara itu memamerkan banyak produksi santri.

Satu di antaranya produk peci Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kebumen. Koordinator pemasaran, Tri Sulistyo, mengaku tak mau melewatkan kesempatan itu. Sebab, itu cara ponpesnya memasarkan produk hingga ke tingkat nasional.

Baca: Ratusan Siswa di Semarang Dikenalkan dengan Sistem Ekonomi Syariah

"Semua peci ini buatan santri. Tapi kami hanya bawa sedikit. Saat ini, kami kebanjiran order. Itu biasa terjadi menjelang Ramadan dan Lebaran," kata Tri.

Bila kebanjiran pesanan, ungkap Tri, para santri harus lembur. Bahkan, beberapa pesanan terpaksa dibatalkan.

UKM Ponpes Nurul Hidayah merupakan binaan BI. Menurut Tri, binaan itu mendorong para santri mandiri mendapatkan penghasilan. Setelah lulus, mereka dapat mendirikan usaha sendiri.
 
"Santri yang dilibatkan membuat peci ada 25 santri. Kalau santri putra-putri terdapat 500. Mereka mendapat tugas, ada yang jaga toko bangunan, membuat tempe, jaga toko bangunan, jaga toko sembako, dan peternakan. Setiap santri rata rata mendapatkan bayaran Rp1 juta per bulan," ungkapnya. 


(RRN)