Lahan Gersang di Rembang yang Kini 'Menghasilkan Uang'

Akhmad Safuan    •    Jumat, 05 May 2017 12:19 WIB
semen indonesia
Lahan Gersang di Rembang yang Kini 'Menghasilkan Uang'
Sumijan,46, warga Pasucen, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, MI - Akhmad Safuan

Metrotvnews.com, Rembang: Bertahun-tahun lamanya warga Desa Pesucen, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kesulitan air. Mereka hanya berharap pada hujan yang menjadi harapan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan air.

Warga biasanya menampung hujan di bak besar atau tong plastik. Kebiasaan itu menjadi cara paling lumrah bagi warga untuk bertahan hidup di perbukitan dengan tanah yang gersang.

Ladang hanya bisa ditanami tanaman keras seperti sengon dan jati atau trembesi. Itu pun baru bisa dipanen bertahun-tahun lamanya.

Sebagian warga mencari penghasilan di luar desa atau daerah. Mereka bekerja serabutan. Saat musim hujan tiba, barulah mereka pulang dan menikmati hasil panen palawija.

“Awalnya warga di sini banyak bekerja di luar desa dan daerah, karena lahan di desa ini tidak dapat menghasilkan apa-apa selain palawija seperti jagung dan singkong saat musim hujan,” kata Warsono,50, warga setempat.

Kehadiran PT Semen Indonesia (SI) membawa harapan pada warga. Yaitu warga bisa bekerja di pabrik tersebut.

Namun kenyataan melampaui impian. Baru saja PT SI membangun pabrik, desa gersang sudah menjadi sumber kemakmuran. Warga mendapat binaan memanfaatkan lahan gersang. Warga pun bisa meraup uang dari lahan tersebut.

Sumijan, misalnya, warga yang mendapat pembinaan dari PT SI. Ia kini bisa mengolah lahan seluas 1,2 hektare. Saat kemarau, lahannya 'tidur'. 

Lulus dari pembinaan, Sumijan membudidayakan buah pepaya Karina. Tak tanggung-tanggung, ia bisa meraup uang Rp5 juta per pekan dari budidaya itu.

Awalnya, Sumijan menyerahkan budidaya pepaya kepada istrinya. Ternyata hasilnya positif. Sumijan pun terlibat dalam usaha itu.

“Saya semakin semangat karena PT Semen Indonesia telah menyiapkan pembeli jika mulai melakukan panen,” tambahnya.

Sumijan mengaku mengeluarkan modal Rp23 juta untuk membeli benih, pupuk, hingga perawatan. Meski baru berusia lima bulan, Sumijan bisa memanen pepayanya setiap pekan. Rata-rata, hasil panennya mencapai 1 ton pepaya.

"Harga jual pepaya di kebun sekitar Rp1.800 sampai Rp3.00 per Kg. Jadi hasilnya menggembirakan. Dalam waktu sebulan, sudah balik modal," lanjut Sumijan.

Sumijan mengaku bimbingan dan bantuan PT SI sangat besar. Ia dan warga lain tak perlu bekerja di pabrik semen untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka cukup mengolah lahan gersang dan menikmati hasil panen.



(RRN)