66% Keluarga di Gunungkidul Masih Gunakan Kayu Bakar

   •    Sabtu, 05 Nov 2016 16:27 WIB
kemiskinan
66% Keluarga di Gunungkidul Masih Gunakan Kayu Bakar
Kayu bakar masih dijual di Bantul, Yogyakarta. Foto: MI/Furqon Ulya Himawan

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sebanyak 66,52 persen rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk kegiatan memasak di rumah tangganya.

"Dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tercatat masih banyak rumah tangga di Kabupaten Gunungkidul  menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk kegiatan memasak di rumah tangga," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristianto dalam survei Statistik Lingkungan Hidup 2015/2016, di Yogyakarta, seperti dilansir Antara, Sabtu (5/11/2016).

Sementara itu, daerah tertinggi kedua yang rumah tangganya masih menggunakan kayu bakar, Kabupaten Kulonprogo, sebanyak 50,97 persen.

Ia menjelaskan kenyamanan tempat tinggal sangat erat hubungannya dengan penggunaan bahan bakar untuk memasak. Karena itu, bahan bakar yang bebas dari polusi udara akan mendukung meningkatkan derajat kesehatan bagi penghuninya.

Ia mengatakan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peningkatan kesehatan dan pelestarian lingkungan hidup menjadi salah satu penyebab banyaknya keluarga yang beralih menggunakan gas sebagai bahan bakar memasak.

Secara berturut-turut, kata dia, daerah yang masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak adalah Kabupaten Bantul 25,14 persen, Kabupaten Sleman 12,48 persen, dan Kota Yogyakarta 1,07 persen.

Dihubungi terpisah, pengamat kebijakan publik bidang kesejahteraan rakyat dari Universitas Indonesia (UI) Sri Handiman mengatakan penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak pada rumah tangga, bisa disebabkan faktor ekonomi masyarakat yang cukup sulit sehingga tidak mampu membeli tabung dan gas elpiji untuk bahan bakar memasak.

Selain itu, faktor kebiasaan masyarakat yang enggan untuk beralih dari penggunaan kayu bakar menjadi gas, dan sulitnya akses masyarakat untuk membeli gas di daerah sekitarnya.

"Kemungkinan terbesarnya adalah masyarakat tidak terbiasa dan enggan untuk menggunakan gas dan tabung gas, serta kemungkinanya karena masyarakat itu terlalu miskin," katanya.

Pemerintah perlu memberikan subsidi kepada masyarakat untuk beralih menggunakan gas. "Sekaligus juga untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup," katanya.


(UWA)