Kopi Merapi, dari Robusta hingga Madu

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 26 Sep 2018 19:24 WIB
kopi
Kopi Merapi, dari Robusta hingga Madu
Biji kopi Merapi hasil petani kopi di Lereng Gunung Merapi Sleman, Yogyakarta. Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Sleman: Kopi Merapi yang ditanam petani lereng Gunung Merapi, DI Yogyakarta, memiliki beragam varian. Beragam varian ini membuat cita rasa khas kopi Merapi lebih istimewa dibanding yang lain.

Kelompok Tani Tunas Harapan di Dusun Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menjadi salah satu produsen kopi tersebut. Beragam varian jenis tanaman kopi mereka produksi.

Ketua Kelompok Tani Tunas Harapan Eko Riyono mengatakan, kopi madu menjadi salah satu produksi unggulan. Menurut dia, kopi tersebut memiliki rasa khas dibanding kopi lain.

Meski bukan penikmat kopi, Eko mengatakan bisa membandingkannya. "Kopi madu kalau diseduh dan diminum rasanya sudah manis, seperti sudah ditambah gula," kata dia di Wisma Sanata Dharma, Desa Pentingsari Kecamatan Cangkringan, dalam acara Festival Kopi Merapi, Rabu, 26 September 2018.

Lelaki 42 tahun ini mengatakan, bibit kopi madu diambil kawasan Jember, Jawa Timur. Bibit kopi madu tersebut mulai ditanam di atas lahan seluas lima hektar pascaerupsi 2010. Namun, ada sebagian yang ditanam sebelum 2010.

"Ada 18 kelompok petani yang menanam kopi madu. 2011 kopi madu mulai bisa memanen," ungkapnya.

Tak ada perbedaan signifikan dalam produksi kopi madu. Namun, panen kopi madu harus menunggu saat buah sudah benar-benar tua. Ciri-ciri kopi madu saat matang berwarna merah.

Ia mengaku, setiap panen bisa menghasilkan 4-5 kuintal biji kopi dari lahannya. Eko menjual sebagian biji kopi dalam kondisi kering, yang harganya Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Sementara itu, penjualan dalam bentuk kemasan bisa mendapat penghasilan dua kali lipat.

"Air untuk membuat kopi madu harus dalam suhu 70-80 derajat. Jika lebih atau hingga 100 derajat, bisa hilang rasa keaslian kopinya," ucapnya.

Selain kopi madu, kata Eko, juga menghasilkan kopi Robusta dan Arabika. Ia menilai, kekhasan kopi-kopi dari lereng Gunung Merapi karena tumbuh di lahan mengandung abu vulkanik.

Tak hanya itu, sebagian besar tanaman kopi di lereng Gunung Merapi berusia puluhan tahun. Bahkan, ada tanaman kopi di Dusun Turgo yang berusia lebih dari 50 tahun.

"Ini karena sebagian wilayah Turgo selamat dari jangkauan awan panas waktu erupsi 2010," kata seorang petani Dusun Turgo, Musimin.

Musimin menambahkan, pemasaran kopi Merapi sudah masuk ke berbagai toko dan kafe meski baru orang tertentu yang sudah mengenalnya.


 


(SUR)