UMKM di Jateng Melesat, Nilai Aset Capai Rp22 Triliun

Mustholih    •    Kamis, 01 Feb 2018 18:59 WIB
umkm
UMKM di Jateng Melesat, Nilai Aset Capai Rp22 Triliun
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati

Semarang: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil mendongkrak jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaannya dalam kurun empat tahun terakhir. UMKM di Jateng yang hanya berjumlah 80.583 pada 2012, melompat menjadi 115.751 unit kurun waktu dua tahun belakangan.

"Jumlah tenaga kerja pun akhirnya jadi meningkat dari 345.622 orang menjadi 791.767 orang. Peningkatan kapasitas dan kualitas UMKM memang menjadi prioritas kita," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 1 Februari 2018.

Nilai aset UMKM di Jateng melejit dari Rp6,8 triliun menjadi Rp22,89 triliun. Omset mereka pun melesat dari Rp18,972 triliun menjadi Rp43,570 triliun.

Menurut Ganjar, salah satu cara mendongkrak jumlah UMKM ini dengan membangun kualitas sumber daya manusia SDM para pelaku UMKM dengan membuat pelatihan, pengembangan bisnis, pendampingan, dan bantuan modal kerja. Saat ini, kata Ganjar, UMKM di Jateng sudah gampang mendapatkan modal.

"Melalui Kredit Mitra Jateng dari Bank Jateng, mereka bisa mendapat pinjaman dengan bunga ringan, tanpa agunan, dan bebas biaya administrasi. Kredit bisa diajukan perorangan ataupun kelompok dengan plafon Rp2 juta hingga Rp25 juta," ungkap Ganjar menegaskan.

Ganjar mencontohkan keberhasilan Pemprov Jateng mendorong usaha penjualan madu yang dikelola kelompok tani Gubug Lanceng, Kabupaten Magelang. Menurut Ganjar, setiap petani Gubug lanceng kini mampu meraup uang Rp6 juta per bulan dari 100 kotak rumah lebah.

"Ini potensinya luar biasa. Nah kalau ini dibuat produk turunan tentu nilai ekonominya lebih tinggi, dan desa ini bisa menjadi sentra madu lanceng," terang Ganjar.

Ketua Kelompok Tani Gubug Lanceng M. Haris mengatakan, kelompoknya sudah dibentuk sejak November 2014. Kelompok tani Gubug Lanceng saat ini memiliki 29 anggota.

"Ke depan, kita akan mendirikan taman edukasi bagi siapapun yang berkunjung ke Kebonrejo. Tujuannya agar peternak tidak hanya memberdayakan dan menjual madu, namun juga bisa berbagi pengetahuan mengenai lanceng kepada masyarakat," beber Haris.


 


(SUR)