Nglanggeran, Dari Penghasil Kakao Menjadi Produsen Cokelat

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 29 Apr 2017 13:14 WIB
cokelat
Nglanggeran, Dari Penghasil Kakao Menjadi Produsen Cokelat
Seorang pelaku usaha di Desa Wisata Nglanggeran saat mendata hasil olahan produk lokal -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Hamparan perbukitan hijau terpampang kala memasuki Desa Wisata Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Beragam pohon ditanam di kawasan tersebut, termasuk kakao.

Kakao memang menjadi komoditas unggulan Desa Nglanggeran. Bahkan, warga kini mulai mengolah biji kakao menjadi olahan cokelat.

Sudiyono, pengelola Kakao di Desa Nglanggeran, menuturkan, semula petani hanya menjual mentah biji kakao ke tengkulak. Hal itu berubah pada 2015, ketika petani mulai mengolah biji kakao menjadi olahan cokelat.

Upaya pengolahan cokelat di Taman Teknologi Pertanian (TTP) itu dibantu dengan alat pengolahan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta pemerintah setempat. "Tapi kami baru mampu mengolah 30 persen dari biji kakao yang dihasilkan petani," ujar Sudiyono baru-baru ini.

Hasil olahan cokelat di TTP memang belum beragam, misalnya permen cokelat dan bubuk cokelat. Selain itu, TTP baru bisa mengolah 20 kilogram cokelat saban minggu.

Meski masih sedikit, petani cukup senang. Mengingat, alat produksi di tempat tersebut masih terbatas. Selain itu, tak semua biji kakao di Nglanggeran memiliki kualitas A sebagai salah satu syarat untuk produksi olahan cokelat.

"Hasil olahan cokelat di sini dijual dengan harga Rp13 ribu sampai Rp20 ribu." ucap Sudiyono.


Tempat pengolahan kakao menjadi cokelat di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Gunungkidul, Yogyakarta -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Selain di TTP, pengolahan cokelat juga dilakukan masyarakat setempat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngglanggeran. Tempat produksinya dinamakan Griya Cokelat.

Anggota Pokdarwis Desa Nglanggeran Sugeng Handoko menuturkan, pengolahan cokelat di Griya Cokelat memakai alat sederhana karena masih skala industri rumahan. Sementara, pengolahan cokelat di TTP sudah termasuk kategori industri besar.

"Tapi, kami bersinergi dengan TTP Nglanggeran. Istilahnya saling melengkapi," ungkapnya.

Griya Cokelat bisa menghasilkan sekitar 6.000 sachet minuman bubuk cokelat saban bulannya. Hasil olahan itu dipasarkan di kawasan wisata Desa Nglanggeran, swalayan yang ada di Kecamatan Patuk, serta dengan memanfaatkan sosial media.

Keberadaan pengolahan cokelat di wilayah tersebut berimbas positif bagi pariwisata di Nglanggeran. Sejumlah wisatawawan mulai tertarik dengan produksi lokal setempat. Banyaknya kunjungan wisatawan dan penjualan cokelat mampu meningkatkan perekonomian warga sekitar.

"Kini kami jadi tempat belajar daerah lain untuk mengelola pariwisata dan potensi lokal setempat," kata Sugeng.

Desa Wisata Nglanggeran kini menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia, terbukti dengan penghargaan dari ASEAN Community Based Tourism (CBT). Selain cokelat, Desa Nglanggeran juga menjadi tempat pengembangan kambing etawa.
(NIN)