Harga Gabah tak Stabil saat Peralihan Musim

Rhobi Shani    •    Rabu, 01 Mar 2017 13:50 WIB
harga gabah
Harga Gabah tak Stabil saat Peralihan Musim
Sejumlah petani mengangkut gabah hasil panen -- ANT/Syifa Yulinnas

Metrotvnews.com, Jepara: Masa peralihan musim seperti saat ini membuat harga gabah tak stabil. Akibatnya, harga gabah dan beras belum bisa selaras. Harga gabah mengalami lonjakan, namun harga beras justru mengalami penurunan.

"Harga gabah saat ini belum stabil, masih naik turun antara Rp320 ribu sampai Rp380 ribu per kwintal," kata Muhammad Ainul, pengusaha penggilingan gabah di Jepara, Jawa Tengah, Rabu, 1 Maret 2017.

Ainul menuturkan, harga gabah saat musim hujan lalu hanya Rp250 ribu per kwintal. Menurutnya, kenaikan harga gabah dapat berubah sewaktu-waktu.

Harga gabah yang tak menentu, lanjut Ainul, dipengaruhi kondisi cuaca yang tak menentu pula. Jika hujan turun, dapat dipastikan harga gabah langsung turun. Sebab, sebelum digiling, gabah harus dijemur terlebih dahulu.

"Gabah yang dijemur hari itu, langsung digiling esok harinya. Kalau hujan turun, berati tidak bisa menjemur gabah, sementara harus tetap produksi beras," terang Ainul.

Dalam kondisi seperti saat ini, Ainul hanya mampu menggiling gabah 5 ton setiap harinya. Jika kondisi cuaca sudah benar-benar panas, produksi beras dalam sehari mampu 7 ton.

Hal senada diungkapkan Kusrin. Ia menuturkan, ketidakstabilan harga gabah sangat mempengaruhi harga beras.

Harga gabah bisa naik turun sewaktu-waktu, namun harga jual beras di pasar stabil. Ketika harga gabah naik, harga jual beras di pasaran malah mengalami penurunan.

"Harga gabah dan beras saat ini belum ketemu. Sebab, di beberapa daerah panasnya sudah bagus untuk menjemur. Misalnya, di Demak sudah bisa menjemur gabah setengah hari. Tapi, di Jepara belum bisa karena masih ada mendung," pungkas Kusrin.


(NIN)