Permen ESDM 12/2017 jadi Angin Segar Pengelolaan PLTSa

Pythag Kurniati    •    Kamis, 02 Feb 2017 15:52 WIB
plts
Permen ESDM 12/2017 jadi Angin Segar Pengelolaan PLTSa
Erlan Suherlan (kanan) saat menghadiri rapat koordinasi dengan Pemkot Solo di Balai Kota, Kamis, 2 Februari 2017. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik baru saja ditandatangani Menteri ESDM Ignasius Jonan, Kamis, 2 Februari 2017. Beleid ini memberi angin segar bagi pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Aturan ini sekaligus jadi pegangan setelah Mahkamah Konstitusi membatalkan Peraturan Presiden Nomor 18 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya dan Kota Makassar. 

“Keluarnya Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 ini cukup melegakan kami,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Solo Hasta Gunawan, di Solo, Jawa Tengah.

Hasta mengungkapkan pernyataan itu usai menggelar pertemuan dengan PT Solo Citra Metro Plasma Power selaku investor pengelola sampah TPA Putri Cempo. 

Permen ESDM 12/2017 mengatur patokan harga maksimum untuk listrik dari tenaga matahari, angin, air, biomassa, biogas, sampah, dan panas bumi. Permen ini mulai berlaku pada 30 Januari 2017.

PLN Siap Beli Listrik PLTSa Putri Cempo


Keluarnya peraturan ini membuat proyek pengelolaan sampah menjadi energi listrik yang digagas dengan teknologi plasma gasifikasi tetap akan berlanjut. “Sebulan sekali, kami akan terus berkoordinasi dan melakukan evaluasi progres,” papar Hasta.

Direktur  Utama PT Solo Citra Metro Plasma Power, Erlan Suherlan mengungkakan, Permen ESDM 12/2017 bisa menjadi dasar bagi berjalannya proyek PLTSa Putri Cempo. Namun, dia menegaskan aturan baru itu tidak mengubah pengaturan jual-beli listrik dengan PT PLN yang telah disepakati dengan Pemkot Solo.

“Nilai (penjualan listrik) pun tidak berubah,” kata dia. Listrik akan dibeli senilai 18,77 sen dollar AS atau setara Rp2.496 per Kilo Watt Hour (kWH).

Tak ada limbah

Dalam kesempatan itu, Erlan kembali menegaskan bahwa teknologi plasma gasifikasi yang akan diimplementasikan tidak sama dengan insenerator. Sampah yang telah disortir akan diolah dalam reaktor plasma dengan suhu 1.200-5.000 derajat Celcius.

PLTSa Putri Cempo Diproyeksi Hasilkan Rp71 Miliar per Tahun


Erlan mengklaim, proses ini tidak menimbulkan polutan dan limbah. “Keluarannya berupa batu kecil yang bisa dimanfaatkan untuk pengerasan jalan,” paparnya.

Setidaknya ada 450 ton sampah yang diolah dalam satu hari, terdiri dari 200 ton sampah baru dan 250 ton sampah lama di Putri Cempo. Dari kapasitas tersebut diperkirakan bakal menghasilkan 10-12 MW listrik perjam.


(SAN)