Jateng Siap Jadi Ladang Investasi pada 2025

Budi Arista Romadhoni    •    Sabtu, 24 Nov 2018 16:17 WIB
investasi
Jateng Siap Jadi Ladang Investasi pada 2025
Ilustrasi investasi, Medcom.id

Semarang: Jawa Tengah dipersiapkan menjadi ladang investasi pada tahun 2025. Hingga penghujung tahun 2018 ini persiapan terus dilakukan, dari proses penataan kawasan industri, serta menyiapkan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, ketersediaan listrik dan air.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Prasetyo Aribowo mengatakan progres investasi di Jateng merangkak naik. Hingga triwulan ketiga 2018, target investasi yang terealisasi mencapai 90 persen atau di atas Rp42 triliun.

“Jateng sebagai ladang investasi tahun 2025, kenapa baru tahun itu karena banyak faktor yang harus dipersiapkan. Saat ini menuju ke sana,” kata Prasetyo di Semarang, Sabtu 24 November 2018.

Ia mengaku optimistis capaian melebihi target seperti tahun 2017 lalu. Sebab, pencapaian sudah mendekati target.

Total serapan proyek di Jateng tembus di angka 2.583. Rinciannya, 936 proyek dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan 1.647 proyek dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

"Jumlah proyek itu meningkat dibanding periode sama tahun lalu yang hanya mencatat total 1.940 proyek. Yakni 890 proyek dari PMA dan 1.050 proyek dari PMDN," jelasnya.

Namun demikian, kenaikan jumlah proyek, tak diiringi kenaikan serapan tenagakerja, jumlah serapan tenaga kerja justru menurun.

Jika tahun 2017 lalu ada 98.883 tenaga kerja yang diserap, tahun ini turun menjadi 84.447 tenaga kerja. Kemerosotan itu terjadi di industri PMA. Tenaga kerja Indonesia turun dari 67.395 menjadi 42.690. Sementara tenaga kerja asing juga menurun dari 509 menjadi 403.

"Hal itu disebabkan sektor utama penyumbang investasi adalah listrik, gas dan air. Namun, sektor energi lebih padat modal dan teknologi dan sedikit tenaga kerja," terangnya.

Selain itu, penyebab menurunnya serapan tenagakerja, yaitu karena kualifikasi tenaga kerja yang belum sesuai dengan kebutuhan industri.

Dia berharap, ada sistem khusus yang bisa mendukung link and match antara pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja.

"Harapannya, SMK dan pelatihan tenaga kerja di Jateng bisa menyuplai kebutuhan industri kita," ujarnya.


(RRN)