Perang Dagang AS vs Tiongkok Peluang Bagi Indonesia

Patricia Vicka    •    Sabtu, 07 Apr 2018 15:18 WIB
perdagangan
Perang Dagang AS vs Tiongkok Peluang Bagi Indonesia
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Foto: Medcom.id/Patricia Vicka

Yogyakarta: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok tak akan mengancam perdagangan Indonesia. Sebaliknya, Indonesia bisa menangkap peluang memasarkan produk di tengah konflik kedua negara Adidaya ini.

"Merugikan atau menguntungkan tergantung kesiapan kita. Kita melihat (perang dagang) bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai peluang," kata Enggar di Kantor Gubernur DI Yogyakarta.

Indonesia harus bisa secepatnya mengolah peluang bagus dari perang tarif ini. Misalnya ketika harga barang kedua negara melambung tinggi akibat perang tarif.  Barang buatan Indonesia bisa lebih mudah masuk di dua negara itu.

"Karena harga barang naik, barang kita bisa mudah masuk ke AS juga ke Tiongkok,"kata dia.

Dirinya sudah menyiapkan beberapa strategi untuk meningkatkan penjualan produk Indonesia di kedua negara. Di antaranya, mendorong Presiden Jokowi membuka investasi yang berorientasi ekspor.

Indonesia akan melobi kedutaan AS untuk meningkatkan jumlah impor produk Indonesia. "Kami akan coba bicara dengan AS melalui pertemuan para dubes. Para dubes akan bertemu minggu depan,"jelasnya.

Para pelaku usaha dan investor juga diimbau memperbanyak penggunaan produk-produk Industri kecil dan menengah (IKM). Cara lain, membuat aturan toko daring memasarkan produk lokal.

"Nanti kami keluarkan aturan market place wajib gunakan produk-produk IKM sebanyak beberapa persen dari usaha mereka," tegasnya.

Di sisi lain pemerintah akan membina para pelaku IKM agar mampu meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya. Sehingga, produk Indonesia bisa bersaing dengan produk negara ASEAN lainnya.

Hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok tengah memanas. keduanya saling menyerang di sektor perdagangan dan industri dengan pemberlakuan tarif tinggi pada beberapa produk impor kedua negara.

Tiongkok menerapkan tarif bagi 128 produk AS senilai US$3 miliar. Tiongkok bahkan menghentikan impor pesawat Boeing, buah-buahan dan kedelai dari Amerika Serikat.

Tindakan ini dilakukan sebagai aksi balasan terhadap pengenaan 25 persen tarif impor baja dan 10 persen tarif impor aluminium yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada produk Tiongkok.

Sementara AS membalas lewat tarif tambahan sebesar 25 persen terhadap 1.300 produk asal Tiongkok meliputi produk industri kedirgantaraan, teknologi informasi dan komunikasi, robotika serta permesinan. Sebagai balasan, negeri tirai bambu berencana mengenakan tarif 25 persen bagi 106 produk asal AS.


(SUR)