Pemasaran jadi Tantangan Terberat Startup Gim

Antara    •    Minggu, 16 Sep 2018 15:14 WIB
startup
Pemasaran jadi Tantangan Terberat <i>Startup</i> Gim
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal

Yogyakarta: Pemasaran produk menjadi tantangan terberat bagi startup pembuat gim di Indonesia. Mereka dianggap belum mampu bersaing dengan produk sejenis dari luar negeri yang mengincar pasar Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Pendiri sekaligus Kepala Keuangan dan Pemasaran (CFO) NED Studio Debora Pakpahan serta Pendiri dan Seniman gim Noobzilla, Estu Pratiwi, dalam diskusi dan berbagi pengalaman "Game sebagai Tools Media Pemasaran Produk" di selasar Pasar Rakyat Nusantara, Yogyakarta, seperti yang dilansir Antara, Minggu, 15 September 2019.

"Potensi gim di Indonesia sangat besar, baik untuk promosi, simulai maupun edukasi. Tetapi tantangannya juga besar karena persaingan 'marketing' dengan gim luar negeri," kata Debora.

Dia menyontohkan gim Mobile Legend yang dikembangkan dan dipasarkan Moonton. Perusahaan berbasis di Shanghai, Tiongkok, sudah 'membakar' uang tidak sedikit untuk pemasaran.

"Sementara kami masih harus pikir gaji untuk diri sendiri, apalagi karyawan," lanjut Debora.

NED Studio memutuskan untuk memindahkan basis operasionalnya dari Medan, Sumatera Utara ke Yogyakarta untuk mencari peluang yang lebih menguntungkan bagi perusahaan mula. Dia menilai perusahaan gim harus hijrah ke Pulau Jawa agar mendapat lebih banyak peluang investasi.

"Beruntung kami terpilih sebagai peserta inkubasi Indigo dan bisa pindah ke Yogyakarta," kata dia.

Kesulitan dalam pemasaran tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkreasi membuat gim, yang merupakan cita-citanya dan pendiri NED Studio yang lain. Selalu ada jalan untuk tetap bertahan.

"Kalau 'passion'-nya di gim harus lanjutkan, tapi juga harus ingat untuk monetisasi semuanya dan yang penting usahakan yang terbaik dan beradaptasi dengan keadaan yang ada," kata dia.

Manfaatkan platform

Estu dari Noobzilla juga berulangkali mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya. "Sampai sekarang juga masih sulit, tapi seperti yang juga disampaikan Debora tadi, selalu ada jalan," kata dia.

Estu sebelumnya merupakan karyawan suatu perusahaan gim dari luar negeri. Kesulitan pemasaran dapat diakali.

Salah satunya, dengan memanfaatkan "platform" besar yang kini juga menyediakan kanal untuk
gim buatan "startup". Antara lain Facebook dan Line, di samping menjual aplikasi gim ke sistem telepon pintar, seperti AppStore atau Google
PlayStore.

"Sekarang ada empat gim kami yang sudah masuk di Facebook, dan beberapa yang bisa dibeli di iPhone dan android, meski pun yang kedua itu lebih lama terjualnya," kata dia.

Pegiat "startup" gim juga dapat memanfaatkan program-program pemerintah untuk pengembangan "startup", seperti yang pernah diikuti Noobzilla pada 2016.

Saat itu Noobzilla mendapatkan dana pengembangan dari program insentif pemerintah yang diberikan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Untuk meminimalisasi biaya operasional, Noobzilla hanya memiliki dua pimpinan yaitu CEO yang merangkap kepala teknologi informasi (CTO) dan dirinya yang menjadi CFO sekaligus seniman gim.


(SUR)