TPID Catat Kota Tegal Alami Inflasi 0,21% di Oktober

Kuntoro Tayubi    •    Kamis, 14 Dec 2017 13:14 WIB
inflasi
TPID Catat Kota Tegal Alami Inflasi 0,21% di Oktober
Pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Kota Tegal, mengalami kelesuan pembeli. Medcom.id/Kuntoro Tayubi

Tegal: Inflasi Kota Tegal, Jawa Tengah, pada Oktober 2017 mencapai 0,21 persen dari bulan ke bulan. Capaian inflasi di Oktober ini lebih rendah dibandingkan dengan dalam lima tahun terakhir di Oktober (2011-2016) yang mancatatkan rata-rata inflasi 0,31 persen (m-t-m).

Beras menjadi salah satu pemberi andil terbesar. Andil inflasi pada Oktober 2017 berasal dari kelompok volatile food dan inti inflasi yaitu beras (0,17 persen), biaya pendidikan pada perguruan tinggi/akademi (0,07 persen), cabai merah (0,03 persen), kontrak rumah (0,03 persen) dan emas perhiasan (0,02 persen).

Bertepatan dengan libur panjang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, terdapat potensi tekanan inflasi di Desember 2017 antara lain potensi yang di dorong oleh kelompok makanan jadi, peningkatan tarif objek wisata, tarif transportasi (kereta api, angkutan antar kota, angkutan dalam kota), sewa kendaraan dan makanan jadi. Tekanan inflasi global didorong oleh kenaikan harga emas dunia.

"Perlu disikapi, bahwa Desember 2017 sudah memasuki musim penghujan yang bisa mengganggu ketersediaan stok, panen, gangguan distribusi, dan banjir,” ujar Pelaksana arian Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Tegal Yuswo Waluyo, dalam siaran pers yang ditulis Kamis, 14 Desember 2017.


Pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Kota Tegal, mengalami kelesuan pembeli. Medcom.id/Kuntoro Tayubi


Kenaikan harga beras kembali terjadi karena berlakunya Permendag nomor 57/MDAG/PER/8/2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras sejak 1 September 2017.

“Kenaikan inflasi beras sejalan dengan kenaikan inflasi Gabah Kering Panen (GKP) karena naiknya kualitas gabah di musim panen gadu dan kurangnya pasokan karena gangguan hama wereng di beberapa daerah,” katanya.

Kenaikan inflasi beras juga dipicu oleh kurangnya pasokan beras medium akibat kenaikan harga gabah. Data inflasi beras menunjukkan angka tak stabil pada Oktober. Inflasi beras ini sudah berlangsung sejak Agustus, September, dan Oktober 2017, yang biasanya pasokan pada bulan tersebut mencukupi.

Selain itu, tambah Yuswo, ekonomi Tegal juga harus mewaspadai jalan tol yang sementara tidak beroperasi pada Desember 2017 karena dalam proses penimbunan. Ini akan memengaruhi arus lalu lintas di Jalur Pantura.

Secara tahun kalender menjadi sebesar 3,24 persen (year-to-date) dan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) secara tahun ke tahun mencapai 3,50 persen. Sehingga Kota Tegal harus meramu resep terbaik sehingga inflasi tahunan yang perhitungannya tinggal November dan Desember 2017 dapat dikendalikan. Inflasi Kota Tegal sampai akhir 2017 diharapkan dapat mencapai sasaran inflasi nasional sebesar 4±1 persen (yoy).


(SUR)