Tujuh Pabrik Surimi Diminta Diversifikasi Bahan Baku

Budi Arista Romadhoni    •    Minggu, 21 Jan 2018 16:54 WIB
cantrang
Tujuh Pabrik Surimi Diminta Diversifikasi Bahan Baku
Seorang perempuan menjemur ikan di kampung nelayan Tambaklorok, Semarang, Jateng -- ANT/R Rekotomo

Semarang: Sebanyak tujuh pabrik pasta ikan (surimi) di jalur pantura Jawa Tengah diminta diversifikasi bahan baku untuk mensiasati minimnya hasil tangkap ikan akibat pelarangan cantrang. Pabrik surimi tersebut selama ini mengandalkan nelayan cantrang untuk mendapatkan pasokan bahan baku.

"Ketimbang mereka tidak membuka usaha lagi, kenapa tidak dilakukan perluasan ruang lingkup produksi. Kita tahu kualitas surimi terbaik di dunia berasal dari Indonesia, kualitasya jauh di atas Vietnam, Kamboja, maupun Thailand," kata Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jawa Tengah, Gatot R. Perdana, di kantornya, Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Minggu 21 Januari 2018.

Gatot mengatakan cantrang saat ini memang boleh dipergunakan kembali. Namun, bisa saja sewaktu-waktu pemeriintah kembali melarang penggunaaan cantrang.

"Diversifikasi dapat menjadi solusi bagi perusahaan pengolahan ikan untuk tetap berjalan walaupun tidak ada stok ikan kurisi dan suwanggi yang menangkapnya harus menggunakan cantrang," jelasnya.

Menurut Gatot, tujuh pabrik surimi yang dimaksud, yaitu PT Bluesea Industry di Pekalongan, PT Bintang Karya Laut di Rembang, PT Holimina Jaya di Rembang, PT Indoseafood di Rembang, PT Namkyung di Rembang, PT Sinar Bahari Agung di Kendal, dan PT Sinar Mutiara Abadi di Rembang. Tujuh pabrik surimi telah dikumpulkan untuk menggali diversifikasi bahan baku.

Beberapa alternatif bahan baku ditawarkan, mulai rajungan, ikan tenggiri, cumi, dan udang. "Mereka rupanya tertarik beralih ke bahan baku tersebut untuk memacu kinerja ekspornya," lanjut Gatot.

Pabrik surimi tersebut, kata Gatot, sudah sejak lama menjalin kerjasama ekspor dengan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (BKIPM) Jateng. "Dari total 48 pabrik pengolahan ikan, tujuh di antaranya memproduksi pasta ikan untuk diekspor ke negara-negara Asia Pasifik macam Tiongkok, Thailand dan Taiwan," ucapnya.

Aktivitas ekspor surimi saat ini menduduki peringkat keempat dari total ekspor produk perikanan dari Jawa Tengah. Dari data komoditas ekspor pada 2017, ekspor surimi mencapai 2.708 ton atau setara Rp221 miliar.

Sedangkan, penyumbang ekspor produk perikanan di Jateng lainnya yaitu rajungan mencapai 3.228 ton atau setara Rp1,2 triliun dan udang mencapai 3.320 ton atau setara Rp515 miliar.


(NIN)