Kisah Mantan TKI Berdaya dengan Usaha Mandiri

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 05 Feb 2018 11:08 WIB
tkiburuh migranumkm
Kisah Mantan TKI Berdaya dengan Usaha Mandiri
Siti Mubarokah, warga Dusun Sidokerto, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman sekaligus mantan buruh migran, menunjukkan hasil olahan salak. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Sleman: Para mantan tenaga kerja Indonesia (TKI ) berupaya untuk mandiri secara ekonomi setelah mereka pulang dari negeri orang. Bermodal hasil kerja di luar negeri, mereka membuka usaha dan lapangan kerja. Bahkan sudah ada yang berjalan lebih dari lima tahun.

Siti Mubarokah, warga Dusun Sidokerto, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu mantan buruh migran yang membuka usaha mulai 2011. Siti dan sejumlah temannya mantan TKI yang tergabung dalam kelompok Manunggal Agawe Santoso bekerja sama membuka usaha itu.

"Niatnya berwirausaha. Motivasinya bagaimana agar tak tergantung di negeri orang. Punya sampingan. Karena suami saya juga mantan TKI di Korea," ujar Siti kepada Medcom.id saat ditemui di sela Jambore Keluarga Buruh Migran Indonesia 2018 di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Senin, 5 Februari 2018.

Ia memutar otak untuk memanfaatkan potensi lokal di Sleman. Muncul ide membuat olahan buah salak yang jadi salah satu komoditas andalan petani pesisir utara Sleman.


Aneka hasil olahan salak dari mantan buruh migran di Sleman Yogyakarta. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim


Siti dan kolega berhasil membuat beragam olahan salak. Mulai dari manisan salak, sari salak, dodol salak, wingko salak, hingga nastar salak. "Tapi untuk wingko salak dan nastar salak kami buatnya sesuai pesanan karena tidak tahan lama. Kalau yang lain bisa tahan lumayan lama," ujar perempuan yang memiliki anak tiga ini.

Selain produk itu, ada pula kopi salak. Produk kopi salak ini dibuat sebagaimana kopi pada umumnya. Namun, kopi salak ini buatan temannya sesama mantan TKI.

Ia memperkirakan ada sekitar dua kuintal salak yang dihabiskan dalam produksi. Meskipun, jumlah ini masih fluktuatif karena masih mengalami pasang surut penjualan.

Akan tetapi, hari libur akan menjadi berkah karena banyak orang yang memesan atau pun membeli. "Kami juga ada langgaran swalayan untuk menjual, seperti di Pamela Jalan Kusumanegara. Kalau yang luar daerah biasanya pesanan lewat internet atau media sosial," kata mantan TKI perawat panti jompo di Taiwan ini.

Selain itu, penjualan juga dilakukan saat ada pameran bersama kelompok PKK yang diikuti. Apabila kelompok PKK sedang ada pameran, ia membawa produk usahanya. Sebaliknya, jika dirinya yang mengikuti pameran, Siti akan membawa produk usaha teman-temannya yang tergabung dalam PKK.

"Respon konsumen cukup bagus. Di toko oleh-oleh katanya banyak yang minta. Per bulan kadang ada pesanan sekian gitu," ujarnya.

Ia mengaku kini lebih nyaman menjadi wirausaha ketimbang jadi TKI. Meski yang eksis di kelompoknya dalam wirausaha hanya lima orang, namun ia bisa lebih banyak waktu untuk bertemu keluarga.

Sementara itu, Siti juga mendapat ilmu soal kedisiplinan selama berada di Taiwan tiga tahun. "Saya mencoba belajar menerapkan disiplin di usaha," katanya.


Antik Pristi Wahyuni, 33, mantan TKI di Hongkong membuka usaha mandiri. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Antik Pristi Wahyuni, 33, mantan TKI ini juga membuka usaha. Perempuan asal Malang, Jawa Timur ini baru merintis usaha olahan seperti ekstrak jahe, temulawak, dan kunyit. Seluruh bahan ia peroleh sendiri dari lingkungan sekitar.

Perempuan mantan TKI di Hongkong 2003-2013 ini secara otodidak belajar membuat ekstrak dari beragam tanaman obat itu. "Ya, intinya pengen mandiri," ucapnya.

Antik masih berusaha sendiri tanpa adanya pendampingan dari pihak mana pun. Namun, ia berharap bisa mendapat banyak masukan dari teman sesama mantan buruh migran untuk membesarkan usahanya.

"Nyamannya beda banget kalau punya usaha. Kalau jadi TKI biar pun gaji tiap bulan, tapi risiko besar. Jauh dari keluarga. Kerjanya berat karena di rumah tangga 24 jam, harus stay di rumah majikan terus. Semoga usaha saya nanti bisa berkembang besar," katanya seraya berharap.
 


(SUR)