Garam Gunungkidul Termahal Sejak 20 Tahun Terakhir

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 25 Jul 2017 16:06 WIB
harga garam
Garam Gunungkidul Termahal Sejak 20 Tahun Terakhir
Sebungkus garam yang ada di toko pedagang Pasar Argosari. (MTVN-Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Gunungkidul: Beras, gula, minyak, dan barang kebutuhan pokok lainnya bertumpuk rapi di kios milik Sulastri, 60. Hanya saja, garam tak begitu banyak seperti biasanya.

Pedagang di Pasar Argosari, kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu, mengaku, tak mendapat pasokan garam sejak sepekan lalu. "Ini hanya ada beberapa kotak garam, merek Zebra," ujar Sulastri di Pasar Argosari Gunungkidul, Selasa, 25 Juli 2017. 

Sulastri mengatakan, biasanya mendapatkan pasokan ratusan bungkus garam berbentuk balok merk Zebra itu. Saat ini, stok garam Zabra hanya tersisa puluhan. 

Bahkan, garam tanpa merek, atau disebut garam non-yodium, pun stoknya sangat sedikit.

"Kata orang yang biasa nyetor garam ke sini itu karena daerah pemasoknya di Pati (Jawa Tengah) lagi banyak hujan, makanya produksi garamnya kurang," ungkapnya. 

Sulastri tak tahu persis penyebab minimnya pasokan garam. Faktanya, harga garam pun naik. Garam merek Zebra yang berisi 10 bungkus biasanya dijual Rp15 ribu, kini naik menjadi Rp25 ribu. 

"Per bal harganya Rp77 ribu. Sebelum minim pasokan harganya tidak sampai segitu. Harga garam sekarang paling tinggi sejak 20 tahun lalu," katanya. 

Ia memperkirakan, harga garam perlahan naik sekitar dua bulan lalu. Dari semula harga garam eceran Rp2.000 per bungkus menjadi Rp8.000 per bungkus. Menurut dia, harga di pedagang tingkat warung di luar pasar bisa mencapai Rp10 ribu per bungkus. 

Selain garam bermerek, garam gosrok atau garam biasa juga mengalami kenaikan harga signifikan. Tukino, yang juga pedagang pasar Argosari, mengatakan harga garam gosrok yang semula Rp20 ribu per 20 kilogram, kini bisa mencapai Rp100 ribu. Untuk eceran per kilogram, dari harga Rp1.000 menjadi Rp5.000. "Kayaknya naik lagi," ungkapnya. 

Kendati harga garam terus naik, kata dia, pembeli memang tak mengalami penurunan. Namun, hampir sebagian besar pembeli mengeluhkan tingginya harga garam saat ini. 

Terpisah, Kepala Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gunungkidul, Supriyadi mengatakan sudah beberapa waktu lalu memperoleh laporan tingginya harga garam.

Menurut dia, tingginya harga garam lantaran Yogyakarta tak memiliki petani garam dan menggantungkan pasokan dari luar daerah. 

"Sejak bulan puasa kemarin harga garam naik. Kami belum mengambil tindakan. Masih menunggu rapat koordinasi bersama pemerintah DIY untuk menyikapi ini," tuturnya. 


(SAN)