11 Ribu Produk Tegal tak Ber-SNI

Kuntoro Tayubi    •    Selasa, 04 Apr 2017 16:23 WIB
sni
11 Ribu Produk Tegal tak Ber-SNI
Seorang perajin sedang memproduksi kok di rumah industri Desa Lawatan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi)

Metrotvnews.com, Tegal: Produk yang berasal dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, banyak yang belum terdaftar atau bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Jumlahnya, hampir mencapai 11 ribu produk. Produk itu berupa logam, tekstil, kerajinan, alat kesehatan (alkes), dan beberapa produk lainnya. 

Kepala Bidang (Kabid) Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka pada Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Tegal, Arifin, menuturkan, produk dari wilayahnya yang bersertifikat SNI masih sedikit. 

"Jika dihitung, mungkin sekitar puluhan saja. Tidak ada satu persen," kata Arifin, saat membuka acara serah terima sertifikat Penggunaan Produk Berstandar (SPPT) SNI kok merek Larisa oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik kepada UD Tri Sakti di Desa Lawatan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Selasa, 4 April 2017.

Walau belum banyak yang ber-SNI, tapi Arifin mengaku kerap memberikan sosialisasi ihwal sertifikat tersebut. Namun demikian, kesadaran para pengusaha masih rendah. Sejauh ini, jumlah industri kecil menengah (IKM) yang tersebar di Kabupaten Tegal sekitar 11 ribu.

Dari jumlah itu, yang sudah ber-SNI hanya produk makanan dan minuman. Misalnya, minuman air mineral, dan makanan ringan. "Karena, produk makanan dan minuman memang wajib ber-SNI," terangnya.

Kepala Pusat Pendidikan dan Kemasyarakatan Standarisasi Badan Standarisasi Nasional (BSN), Nasrudin Irawan, yang hadir dalam acara itu mengatakan, standar nasional Indonesia diterapkan menjadi dua kategori.

Yaitu, produk wajib ber-SNI dan produk SNI yang bersifat sukarela. Untuk produk yang wajib ber-SNI adalah, produk rumahan, makanan, dan minuman. 

Sedangkan produk yang non-sukarela yakni, logam, kerajinan, dan lainnya. Namun, jika mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2014 tentang standarisasi dan penilaian kesesuaian, maka seluruh produk IKM harus menerapkan SNI. Termasuk produk kok yang diproduksi di Desa Lawatan ini.

"Di sini (Kabupaten Tegal) produknya memang sudah bagus, tapi terkadang masih kurang. Maka akan kita tata kembali," kata Nasrudin, didampingi David, Bagian Pusat Pendidikan dan Kemasyarakatan BSN. 

Dia berharap, produk IKM di Kabupaten Tegal segera menerapkan SNI. Sehingga bisa bebas masuk ke berbagai pasar. Selain itu, juga untuk mempertahankan kualitas produk supaya tetap diminati oleh konsumen.


(SAN)