Tingginya Harga Gabah Menyebabkan HET Beras Sulit Diterapkan

Iswahyudi    •    Senin, 04 Sep 2017 16:13 WIB
harga beras
Tingginya Harga Gabah Menyebabkan HET Beras Sulit Diterapkan
Petani panen di Desa Rowoari, Kendal, Jawa Tengah -- MTVN/Iswahyudi

Metrotvnews.com, Kendal: Harga gabah yang tinggi, menyebabkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sulit diterapkan. Harga gabah yang tinggi disebabkan banyak petani mengalami gagal panen.

"Harga gabah tahun ini termasuk tinggi, mencapai Rp520 per kilogram. Otomatis harga beras juga ikut tinggi," kata Muhajir, pedagang gabah basah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Senin 4 September 2017.

Muhajir menjelaskan, harga Rp520 per kilogram hanya untuk gabah basah yang bagus. Sedangkan, gabah dengan kualitas biasa-biasa saja dihargai hanya Rp480 per kilogram.

(Baca: Harga Gabah Selalu Berubah, HET Sulit Ditetapkan)

Sementara, harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kendal mengalami kenaikan. Beras jenis mentik dihargai Rp11.650 per kilogram dari sebelumnya Rp 11.050 per kilogram.

Beras medium seperti jenis C4 dijual Rp10 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp9.500 per kilogram. Kenaikan harga beras ini mulai terjadi dua minggu belakangan.

"Saya hanya menjual sesuai harga di pasar. Kalau harga dipatok, saya bisa rugi karena tidak sesuai dengan kulaknya," kata Tina, penjual beras di Pasar Weleri, Kendal.

(Baca: Pedagang Beras di Kendal tak Tahu Soal HET)

Sebelumnya, pemerintah pusat memberlakukan HET beras pada 1 September 2017. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 47 Tahun 2017 menetapkan, HET beras medium Rp9.450 per kilogran dan Rp12.800 untuk beras premium. Harga tersebut berlaku di Pulau Jawa, Lampung, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Pulau Sulawesi.


(NIN)