Rehal Kayu Jati Tanpa Sambungan Khas Jepara

Rhobi Shani    •    Selasa, 23 Oct 2018 14:04 WIB
umkm
Rehal Kayu Jati Tanpa Sambungan Khas Jepara
Dua ibu tengah memahat rehal khas seni ukir Jepara, Medcom.id - Rhobi Shani

Jepara: Sebagian masyarakat Muslim di Indonesia menggunakan rehal untuk membaca Alquran atau mengaji. Kebiasaan itu pun dimanfaatkan perajin asal Jepara, Jawa Tengah, untuk memproduksi rehal dengan ukiran khas kabupaten tersebut. Uniknya, rehal yang dibuat perajin bernama Kisman itu tak menggunakan teknik sambung.

Medcom.id mendatangi tempat Kisman memproduksi rehal di Desa Kawak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Jepara. Beberapa orang mengamplas, mengukir, dan memotong kayu. Ada pula yang mewarnai kayu yang berukuran 15 x 30 sentimeter.

Kisman tampak di tenga-tengah pekerjanya. Ia sibuk memilih kayu. Lalu ia menggambar pola kembang mekar pada permukaan kayu.

"Nanti kayunya dipotong sesuai ukuran, lalu digambar polanya," kata Kisman sambil menunjukkan gambar hasil laryanya, Selasa, 23 Oktober 2018.

Setelah itu, ia menyerahkan kayu itu ke pekerja di bagian pembuatan pola. Pekerja mengukir pola. Lalu pekerja memahat kayu menyesuaikan pola tersebut.

"Ada yang motif kembang mekar, kaligrafi Allah, ada juga yang model kupingan,” kata pria yang menekuni usaha pembuatan rehal sejak 20 tahun silam.

Kisman mengatakan rehal yang ia produksi terbuat dari papan kayu utuh. Ia tak menggunakan teknik sambung, lem, dan paku. Saat dilipat, papan seolah terbelah menjadi dua.


(Rehal, produksi ukiran khas Jepara yang tak menggunakan proses sambung, lem, maupun engsel, Medcom.id - Rhobi Shani)

"Untuk bagian tengahnya dipahat saling berkait, jadi tidak menggunakan engsel," lanjut Kisman.

Kisman mempekerjakan enam orang di usaha itu. Dalam sepekan, mereka memproduksi 300 rehal.

Lalu Kisman menjual rehal ke beberapa toko di Kawasan Tahunan dan Kalinyamatan. Harga rehal dengan motif kembang mekar yaitu Rp40 ribu.

“Kalau yang berukuran kecil harganya lebih murah. Untungnya memang sedikit, tapi yang saya buat ini kan untuk mengaji membaca Alquran,” imbuh Kisman.

Di Desa Kawak, Kisman melanjutkan cerita, pemilik usaha pembutan rehal berjumlah puluhan. Selain dijual ke toko-toko mebel dan souvenir, juga melayani pesanan. Kisman mengaku paling sering mendapat pesanan dari pondok pesantren.

“Sekali pesan bisa sampai 100 rehal. Saya tidak tahu, apakah digunakan santri-santrinya atau untuk hadiah, karena biasanya rehal juga digunakan untuk hadiah atau kenang-kenangan,” beber Kisman sambil mengajak Medcom.id melihat proses pewarnaan yang dilakukan dua pekerja di sudut kiri halaman rumahnya.

Proses pewarnaan adalah tahapan akhir pembuatan rehal. Dalam tahapan ini dibutuhkan sinar matahari untuk pengeringan. Proses pewarnaan dilakukan dua kali. Pertama, pemberian warna dasar. Setelah warna dasar kering, rehal kembali diamplas.

“Terus disemprot lagi dan dijemur sampai kering. Semprotan (pewarnaan, red) yang pertama tujuannya untuk menutup serat pori-pori kayu, agar rehal awet,” kata Kisman.

Dalam membuat rehal, Kisman menggunakan kayu mahoni dan jati. Sebab, dua kayu ini terkenal awet dan kuat.    



(RRN)