Tingginya Biaya Produksi Merugikan Petani Tebu Pekalongan

Kuntoro Tayubi    •    Kamis, 07 Sep 2017 11:47 WIB
tebu
Tingginya Biaya Produksi Merugikan Petani Tebu Pekalongan
Petani sedang memanen tebu -- ANT/Mohammad Ayudha

Metrotvnews.com, Pekalongan: Tingginya biaya produksi membuat petani tebu di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, merugi. Kondisi ini diperparah dengan rencana pemerintah mengimpor gula.

Anas Asrori, petani tebu di Desa Ketandan, Kecamatan Wiradesa, mengatakan, biaya produksi mencapai Rp24 juta per hektare. Jumlah tersebut dengan rincian untuk biaya sewa lahan Rp15 juta per hektare dan untuk pupuk serta biaya menggarap ladang sekitar Rp9 juta per hektare.

"Jika kondisi tanaman tebu bagus, per hektare mampu menghasilkan 900 kuintal tebu. Asumsinya, tebu ini dibeli tengkulak seharga Rp24 ribu per kuintal. Nah, dari segi biaya produksi yang kita keluarkan saja tidak nutup, bahkan minus," kata Anas di Pekalongan, Kamis 7 September 2017.

Menurut Anas, jika di pabrik, gula dari petani ditaksir Rp9.600 per kilogram. Ini berarti petani mendapatkan bagi hasil 64 persen dan 36 persen untuk pabrik. Dengan tingkat kadar gula atau rendemen sekitar 6 persen, maka petani pun mengalami kerugian.

"Bisa dihitung sendiri. Jika kadar gula saat ini 6 persen, petani tetap rugi. Rendemen di Pekalongan pada Agustus atau musim kering semestinya tujuh koma, bisa 7,1, atau 7,2 seharusnya," katanya.

Pada awal Agustus, tepatnya 7 Agustus 2017, tebu seharusnya sudah ditebang. Namun, akibat kerusakan mesin di Pabrik Gula (PG) Sragi, hingga saat ini tebu di Kecamatan Wiradesa dan sekitarnya belum ditebang. Sehingga, tanaman tebu sangat kering. Hal ini akan mengurangi tingkat rendemen yang ada.

"Ketika mau dijual ke pabrik lain, misalnya di Sumber, Pangkah, Brebes ,Tersana, itu ongkosnya harus sendiri. Ongkos tebang angkut dikasih harga Rp16 ribu per kuintal. Jika 1 hektare ada 1.000 kuintal, maka biayanya Rp16 juta per hektare. Biaya sewa Rp15 juta, biaya angkut tebang Rp16 juta, biaya pupuk Rp9 juta, sudah berapa itu? Tambah rugi kita, sehingga petani tidak berani menjual ke pabrik lainnya," ujarnya.

Anas berharap, pemerintah bisa menetapkan harga gula di atas Rp10 ribu per kilogram, bukan Rp9.600 per kilogram, mensubsidi pupuk, dan menentukan harga sewa lahan.

"APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) juga harus menolak rencana impor gula," harapnya.


(NIN)