Mendag Imbau Penjualan Bahan Pokok Antarwilayah tak Dibatasi

Patricia Vicka    •    Sabtu, 07 Apr 2018 08:51 WIB
perdaganganbahan pokok
Mendag Imbau Penjualan Bahan Pokok Antarwilayah tak Dibatasi
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Foto: Medcom.id/Patricia Vicka

Yogyakarta: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengimbau pemerintah daerah tidak membatasi penjualan bahan pokok antarwilayah. Pasalnya, ketersediaan bahan pokok tidak sama dan merata di semua daerah.

"Jangan pernah menutup perdagangan bahan pokok ke daerah lain," kata Mendag dalam rapat kordinasi bersama Pemda DIY di Kantor Gubernur DI Yogyakarta, Jumat, 6 April 2018, malam.

Enggar menyebut penjualan bahan pokok antarwilayah lumrah terjadi menjelang bulan puasa dan lebaran.  Ia mengakui perdagangan antar wilayah dapat berdampak ke harga bahan pokok. Namun kegiatan ini tak dapat dicegah dan dibatasi. 

Ia mencontohkan rantai penjualan beras yang kerap "berwisata" sebelum masuk ke pasar tradisional suatu wilayah. "Beras di Sulawesi Selatan masuk ke Jatim. Beras dari Jatim malah pergi ke tempat lain. Beras di Cipinang juga sebelum sampai di sana muter-muter dulu" jelasnya.

Hal ini disebabkan lahan dan sawah di beberapa daerah semakin berkurang. Misalnya, lahan tadah hujan di Jakarta dan Surabaya yang sudah beralih fungsi sebagai kawasan permukiman atau industri.

Distributor terpaksa mencari beras ke petani di luar wilayahnya dan berani membayar tinggi. Petani pun lebih memilih pihak-pihak yang mau membeli barang dagangnya dengan harga tinggi.

Pembatasan penjualan bahan pokok antar wilayah dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan sosial yang tinggi. Misalnya, barang pokok  di daerah Gowa yang hendak dijual ke luar kota harus mendapat izin dari aparat setempat.

"Bahan pokok disana yang mau dijual keluar harus dapat izin dari Kodim. Gesekan sosial malah tambah tinggi," bebernya.

Untuk menekan kenaikan harga, pihaknya akan menerjunkan ratusan pegawai di Kementerian Perdagangan ke daerah-daerah yang rawan kelangkaan. Para petugas akan berkerjasama dengan pemda, bulog dan satgas pangan setempat untuk memastikan kelancaran distribusi bahan pokok.

"Kami imbau kepala dinas dan jajarannya sering-sering masuk ke pasar untuk melihat pasokan dan harga bahan pokok," tandas Enggar.


(SUR)