Mulai 1 Oktober, SPBU di Jepara Tak Layani Pembelian Premium dengan Jeriken

Rhobi Shani    •    Jumat, 30 Sep 2016 13:47 WIB
premium
Mulai 1 Oktober, SPBU di Jepara Tak Layani Pembelian Premium dengan Jeriken
Warga mendorong motor sebelum mengisi bahan bakar minyak di SPBU (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Metrotvnews.com, Jepara: PT Pertamina secara resmi memberlakukan kebijakan Premium dry, yaitu pembatasan pembelian premium dengan jeriken serta pengurangan nozzle premium di seluruh SPBU di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mulai 1 Oktober.
 
Program ini sudah disosialisasikan sejak sebulan lalu. Sehingga, larangan membeli premium menggunakan jeriken dipastikan tela diketahui masyarakat, terutama para pengecer. Para pengecer yang biasa membeli premium harus beralih ke Pertalite atau Pertamax.
 
Koordinator SPBU Jepara, Winarso, menyampaikan, seluruh pengelola SPBU di Jepara telah berkomitmen menjalankan program Pertamina ini. Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan pun sudah diberi surat pemberitahuan.
 
“Sesuai jadwal program Premium Dry dimulai besok. Kalau masih ada yang mau mengisi premium dengan jeriken kami alihkan ke Pertalite atau Pertamax,” ujar Winarso, Jumat (30/9/2016).
 
Meski program Premium Dry baru akan dimulai besok, Winarso melanjutkan, banyak pengecer yang sudah mulai beralih dari Premium ke Pertalite. Itu dibuktikan dengan menurunnya konsumsi premium dan meningkatnya pengguna Pertamax dan Pertalite.
 
“Penjualan Pertalite yang semula hanya di bawah 2.000 liter per hari, sekarang sudah di atas 2.000 liter dan banyak masyarakat yang membeli Pertalite dengan jeriken,” kata Winarso.
 
Disinggung soal pengawasan terkait adanya kemungkinan pembelian premium dengan jeriken, Winarso mengatakan, seluruh manajer SPBU di Jepara sudah beri pengarahan. Meski begitu, tak ada sanksi jelas jika nanti terbukti ada SPBU yang melayani penjualan Premium dengan jeriken.
 
Terpisah, Kepala Disperindag Jepara, Yoso, mengatakan, pihaknya sudah menerima surat dari pihak SPBU Jepara. Dia mengaku akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi adanya gejolak di lapangan.
 
“Tetapi sejauh pemantaun kami tidak terlihat adanya gejolak. Karena masyarakat memang secara perlahan sudah beralih ke Pertalite atau Pertamax,” jelas Yoso.
 


(MEL)