Hak Konsumen Dikhawatirkan 'Tergadai' e-Commerce

Budi Arista Romadhoni    •    Selasa, 24 Apr 2018 19:09 WIB
e-commerce
Hak Konsumen Dikhawatirkan 'Tergadai' e-Commerce
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal

Semarang: Masyarakat kini makin familiar dengan transaksi perdagangan digital (e-commerce) sejak lima tahun terakhir. Konsumen semakin terlena, hak-haknya semakin terancam.

Kepala Disperindag Jawa Tengah, Muhammad Arif Sambodo menyatakan laju e-commerce sangat cepat belakangan ini. Hal tersebut didorong pesatnya perekonomian global, sehingga memengaruhi pertumbuhan bisnis e-commerce Indonesia.

Transaksi e-commerce mampu memotong rantai distribusi konvensional karena produsen bisa langsung berinteraksi dengan konsumen lewat gawai.

"Namun, jika masyarakat terlena terhadap layanan digital ini, maka akan kehilangan haknya sebagai konsumen," katanya di Semarang, Selasa, 24 April 2018.

Arif mengatakan, konsumen harus paham dengan produk yang dikonsumsi berdasarkan undang-undang konsumen. Konsumen harus dapat mendapat informasi barang yang diperdagangkan aman, sehat, atau aman terhadap lingkungan.

"Yang paling penting hak untuk memilih, dan hak konsumen tidak dibeda-bedakan. Lalu hak mendapat ganti rugi bila itu merugikan konsumen," ujarnya.

Dia mengatakan para pengguna layanan e-commerce kebanyakan didominasi anak muda dan ibu rumah tangga. Kontribusi e-commerce untuk industri perdangan dan pariwisata di Jawa Tengah sudah mencapai 10-20 persen.

Jika pemerintah dan pengguna jejaring e-commerce tidak mengantisipasi, kata Arif, konsumen akan kesulitan. Terutama mengadukan komplain ke pihak Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) di tiap kabupaten/kota.

"Makanya kami mendorong adanya perubahan UU konsumen untuk menyikapi maraknya pedagang online. Mereka harus kami sentuh untuk siap menghadapi suasana digitalisasi serta memahami perannya sebagai konsumen yang cerdas," tandasnya.


(SUR)