Pemkab Sleman Didesak Tetapkan Harga Terendah Salak

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 11 Jul 2017 15:39 WIB
petani
Pemkab Sleman Didesak Tetapkan Harga Terendah Salak
Ratusan petani salak mendatangi Pemkab Sleman -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Sleman: Ratusan petani salak dari Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendatangi kantor Pemerintah Kabupaten Sleman. Mereka membawa keranda berisi salak yang dibalut kain putih.

Lurah Desa Wonokerto Tomon Haryo Wirosobo mengatakan, petani salak di wilayahnya sedang resah. Salak yang menjadi penghasilan utama tidak lagi bisa diandalkan.

"Harga salak di Sleman tahun ini menjadi yang terendah dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Tomon di Sleman, Selasa 11 Juli 2017.

Menurut Tomon, harga salak saat Ramadan dan Lebaran 2017 hanya Rp1.500 per kilogram hingga Rp3 ribu per kilogram. Harga tertinggi hanya menyentuh angka Rp12 ribu per kilogram.

"Karena harga anjlok, banyak petani yang memilih tidak memanen. Buahnya (salak) dibiarkan rontok. Kita minta (pemerintah) bisa membuat aturan harga terendak salak," ujarnya.

(Baca: Harga Salak Anjlok, Petani di Sleman Menjerit)

Petani, lanjut Tomon, juga kesulitan memasarkan hasil pertanian salak. Karenanya, petani salak meminta Pemkab Sleman membuat kebijakan yang melindungi hajat hidup mereka.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman Edi Sriharmanto mengatakan, bakal membahas permintaan petani salak itu. Ia mengaku, memahami yang dirasakan petani salak di Sleman saat ini.

"Kita akan membahas bagaimana memecahkan persoalan ini untuk meningkatkan penghasilan petani. Termasuk dari sisi budi daya dan meningkatkan kualitas salak," kata dia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman Tri Endah Yitnani menambahkan, bakal berkoordinasi dengan lintas sektor agar produk dari petani bisa ada yang menampung di industri kecil. Selain itu, dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi hasil olahan salak.

"Termasuk mengadakan pameran (hasil olahan salak). Hasil olahan bisa dipasarkan di luar kota, ke Jakarta dan Medan," ujarnya.

Tri melanjutkan, bakal berusaha mencari langkah agar bisa menstabilkan harga salak. "Kita coba bertemu dengan tengkulak dan pengepul. (Gas) LPG sudah ada aturannya, kalau salak belum ada," kata dia.


(NIN)