Harga Salak Anjlok, Petani di Sleman Menjerit

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 11 Jul 2017 12:58 WIB
petani
Harga Salak Anjlok, Petani di Sleman Menjerit
Petani Sleman saat menunjukkan salak yang harganya saat ini anjlok -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Sleman: Ribuan petani salak di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjerit. Harga salak terus anjlok beberapa pekan terakhir.

Sunarjo, 51, petani salak di Desa Wonokerto, mengatakan, harga salak sejak Ramadan hingga lebaran 2017 mencapai titik terendah. Harga salak terendah mencapai Rp1.500 per kilogram hingga Rp3 ribu per kilogram.

"Bahkan, salak yang ukurannya kecil harganya hanya Rp500 per kilogram," kata Sunarjo di Sleman, Selasa 11 Juli 2017.

Menurut Sunarjo, harga salak sempat berada pada kisaran Rp12 ribu per kilogram. Anjloknya harga salak ini sangat merugikan petani. Apalagi, saat ini petani salak sedang masa panen pertengahan tahun.

Sunarjo menjelaskan, setidaknya ada 3491 petani dengan luas lahan 634,5 hektare. Mereka tak bisa menutupi biaya produksi jika harga salak terus anjlok.

Salah satu faktor anjloknya harga salak, lanjut Sunarjo, adalah panjangnya rantai perdagangan. Ia menyebut, salak dari petani biasanya dijual di pengepul. Pengepul biasanya ada di tingkatan RT dijual ke pedagang RT, kemudian ke desa, kelas lokal, dan pedagang berjaringan di luar kota.

Lurah Desa Wonokerto Tomon Haryo Wirosobo menduga, ada permainan jual-beli salak antarpedagang. Sehingga, banyak produk olahan salak dari luar Sleman.

"Kami berharap jangan sampai rantai perdagangan panjang dan adanya proteksi petani salak. Misalnya, harus ada produk khusus Sleman yang tak keluar sehingga harga tetap tinggi. Minimal harganya stabil," ujar Tomon.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman Edi Sriharmanto menambahkan, komoditas salak di Sleman sudah memperoleh pengakuan konsuman. Namun, ia menilai industri memiliki kriteria lain dalam memilih salak untuk kemudian diolah.

"Industri butuh salak berkualitas. Kita berharap petani memanen salak saat tingkat kematangannya 80 persen supaya awet. Soal aturan nanti kira rumuskan," kata dia.


(NIN)