Air Sungai Winongo Yogyakarta Tercemar Limbah Rumah Tangga

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 22 Dec 2017 21:25 WIB
pencemaran sungai
Air Sungai Winongo Yogyakarta Tercemar Limbah Rumah Tangga
Direktur Walhi Yogyakarta, Halik Sandera, Medcom.id - Mustaqim

Yogyakarta: Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta menyatakan Sungai Winongo yang membentang wilayah Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul, dalam kondisi tercemar dari hulu hingga hilir. Hal itu diketahui usai Walhi melakukan pemantauan pada 1 Oktober 2017. 

Direktur Walhi Yogyakarta, Halik Sandera mengatakan, pemantauan dilakukan di sebanyak 12 titik. 12 titik tersebut yakni Jatirejo, Tempuran Doso, Selokan mataram, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bener (wilayah Sleman), Pringgokusuman, Ngampilan, Wirobrajan, RTH Panduwijayan, Gedongkiwo (wilayah Kota Yogyakarta), Niten, Paker, dan DAM Miri 2 (wilayah Bantul). "Meskipun idealnya pemantauan dilakukan di lebih dari 12 titik," ujar Halik dalam konferensi persnya di Kantor Walhi Yogyakarta Jalan Nyi Pembayun Kotagede pada Jumat, 22 Desember 2017. 

Pemantauan dilakukan dengan metode Biolitik. Biotilik atau biomonitoring merupakan metode pemantauan kesehatan sungai dengan menggunakan indikator makro invertebrata (hewan tidak bertulang belakang) seperti biota capung, udang, siput, dan cacing. Biota-biota yang dipilih jadi indikator kondisi air di setiap titik dan kesensitifan hewan tersebut. 

"Sejumlah biota yang kami ambil yakni udang, keong, cacing tubificidae (jenis cacing sebagai bioindikator banyaknya zat organis dari limbah domestik), hingga kepiting sungai. Pengambilan sampel dalam satu menit 2-4 kali," kata Halik. 

Ia mengatakan pemantauan Walhi bersama sejumlah komunitas peduli sungai menunjukkan Sungai Winongo dengan panjang aliran 43,75 km dari hulu ke hilir dalam kondisi sudah tercemar. Ketercemaran air sungai itu dalam berbagai kadar, mulai dari tercemar sedang, ringan, hingga tercemar berat. 

Pemantauan Walhi Yogyakarta menunjukkan sungai Winongo di titik Jatirejo dalam kondisi tercemar sedang, Tempuran Doso (tercemar sedang), Selokan Mataram (tercemar ringan), Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bener (tercemar ringan), Pringgokusuman (tercemar berat), Ngampilan (tercemar sedang), Wirobrajan (tercemar berat), RTH Panduwijayan (tercemar sedang), Gedongkiwo (tercemar sedang), Niten (tercemar berat), Paker (tercemar sedang), dan DAM Miri 2 (tercemar berat).

Halik menjelaskan ketercemaran air Sungai Winongo lebih banyak diakibatkan limbah domestik atau limbah rumah tangga. Menurutnya, banyak saluran limbah rumah warga yang pada akhirnya bermuara di sungai dalam kondisi belum tersaring bersih. Meskipun, ada pula 'sumbangan' limbah domestik dari rumah warga yang jauh dari sungai Winongo. Selain itu, ada pula tempat ternak babi dan kotorannya langsung di buang di sungai Winongo.

Titik sungai Winongo yang kadar ketercemaran airnya berat berada di Wirobrajan, Niten, dan DAM Miri 2. Di Wirobrajan, lanjut Halik, ketercemaran diakibatkan terdapat pembuangan limbah pembuatan tahu dan penyembelihan hewan. "Air sumur warga juga berpotensi besar tercemar," kata dia. 

Ia mengaku sudah pernah berdiskusi dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat terkait kondisi tersebut. Menurut dia, metode pengujian air oleh BLH berbeda dengan metode yang dilakukan Walhi. Jika BLH memakai BLH memakai tolok ukur fisika kimia, sementara Walhi menggunakan metode survei biota yang hidup di sepanjang aliran sungai WInongo. 

"Kami mendorong pengujian kondisi air sungai tak hanya di sungai Winongo, tapi juga di sungai lain dengan berbagai konunitas. Kami juga berharap pada pihak kementerian ikut menguji kualitas air sungai dengan metode biolitik," jelasnya. 

Ketua Forum Komunitas Winongo Asri DIY, Endang Rohjiani mengungkapkan, pihaknya juga sudah ikut melakukan pemantauan kondisi air sungai sejak dua tahun lalu, termasuk bersama Walhi Yogyakarta. Menurut dia, pemantauan air dengan metode biolitik bisa lebih mudah dilakukan langsung masyarakat. 

"Pemantauan kondisi sungai bisa melibatkan anak-anak dan menjadi proses edukasi. Edukasi ini bisa menjadikan masyarakat lebih peduli dengan lingkungannya," ujarnya. 

Ia menyatakan metode biotilik akan dikembangkan di sejumlah lokasi di Yogyakarta. Pada 2018, kata dia, akan ada tindakan serentak untuk melakukan pemantauan mandiri oleh sejumlah lemen masyarakat. 

"Sekolah-sekolah bisa rutin melakukan pemantauan, tak hanya sekadar kegiatan tapi juga edukasi. Program 'Kotaku' dari pemerintah saya kira juga tidak berjalan maksimal. Kami mendorong adanya penataan kawasan dan program pemerintah diharapkan berprespektif lingkungan," ucap Endang. 

Kepala BLH DIY, Joko Wuryantoro, enggan menanggapi temuan Walhi tersebut. Sementara, Kepala BLH Kota Yogyakarta, Suyono, membenarkan kadar katercemaran air sungai di Yogyakarta cukup tinggi. Ia juga tak tak menampik jika program Kotaku tak langsung menekan ketercemaran air sungai di Yogyakarta. 



(RRN)