Industri Mebel Ditinggalkan Tukang kayu

Rhobi Shani    •    Rabu, 23 Aug 2017 14:37 WIB
kerajinan
Industri Mebel Ditinggalkan Tukang kayu
Pekerja di sektor industri mebel. --MTVN/Rhobi--

Metrotvnews.com, Jepara: Pekerja di sektor industri mebel rumahan, seperti tukang kayu, mulai meninggalkan pekerjaannya. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik. Tak pelak, industri mebel di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, saat ini kekurangan tenaga kerja.
 
Bambang, warga Tahunan, pengusaha mebel mengungkapkan, sejak awal tahun hingga saat ini separuh tukang kayu yang semula bekerja dengannya berpamitan keluar. Alasan keluar beragam, ada yang memilih merantau dan memilih bekerja di pabrik-pabrik.
 
“Dulu punya 40 tukang kayu, sekarang tinggal 20 orang. Yang keluar biasanya lebih memilih bekerja di pabrik,” ujar Bambang, Rabu 23 Agustus 2017.
 
Bambang bilang, munculnya pabrik-pabrik asing di Jepara berdampak pada pengurangan tenaga kerja di sektor mebel. Tidak hanya mencari tukang kayu, mencari tenaga amplas yang didominasi kaum perempuan pun susah.
 
“Apalagi yang masih muda-muda, kalau dulu mengamplas mau tapi sekarang lebih milih bekerja di pabrik. Diakui atau tidak kehadiran pabrik-pabrik di Jepara berdampak pada kami,” ungkap Bambang.
 
Meski gaji sebagai karyawan pabrik lebih kecil jika dibanding dengan menjadi tukang kayu, Bambang menambahkan, para pekerja di industri mebel rumahan lebih memilih jadi karyawan pabrik. Sebab, mereka akan mendapat gaji rutin setiap bulan. Sementara, menjadi tukang kayu di industri mebel rumahan upah yang didapat berdasarkan orderan.
 
“Kalau pas orderan banyak ya, penghasilannya banyak. Tapi kalau pas sepi hasilnya sedikit,” kata Bambang.
 
Kondisi itu diakui pengusaha mebel lainnya, Ahamd Fauzi. Mantan Ketua ASMINDO Jepara mengungkapkan, yang paling terkena dampak pengurangan tenaga kerja tukang kayu atas munculnya pabrik-pabrik di Jepara adalah industri mebel rumahan. Lebih dari 30 persen tenaga kerja industri mebel terserap ke sektor industri lain. Sementara, perusahaan mebel juga terkena dampak, namun tidak terlalu signifikan.
 
“Karena kalau bekerja di pabrik mebel, sistem penggajian sama seperti di pabrik-pabrik asing yang baru bermunculan di Jepara itu,” beber Fauzi.


(ALB)