Jaksa Beberkan Kronologi Kematian Taruna Akpol Semarang

Mustholih    •    Selasa, 19 Sep 2017 20:01 WIB
aksi kekerasan
 Jaksa Beberkan Kronologi Kematian Taruna Akpol Semarang
Ilustrasi kekerasan, MTVN - M Rizal

Metrotvnews.com, Semarang: Sebanyak 14 taruna tingkat tiga Akademi Kepolisian Semarang yang diduga menganiaya hingga tewas taruna tingkat dua, Muhammad Adam, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Semarang, Jawa Tengah. Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Suteno, mengungkap kronologi peristiwa kekerasan yang dilakukan para terdakwa terhadap junior-junior mereka di Gudang Flat A lantai II Graha Taruna Detasemen tingkat III Akpol Semarang, pada 18 Mei 2017.

Menurut Suteno, pada pukul 02.20 WIB Kamis dini hari, 18 Mei 2017, para terdakwa dengan terang-terangan dan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap 21 junior mereka yang duduk di tingkat dua Akpol Semarang.

Sebelumnya, pada pukul 23.00 WIB, 17 Mei 2017, setelah apel malam, taruna tingkat tiga, Rinox Lewi Wattimena dan Leonard, memerintahkan kepada taruna tingkat dua, Muhammad Kasim Lating dan Raden Candra Anugerah agar mengumpulkan teman-teman seangkatan yang tergabung daerah asal pengiriman Indonesia Timur di Gudang Flat A sebelum pukul 24.00 WIB. 

"Tujuannya bahwa senior ingin menyampaikan teguran serta arahan kepada junior, karena senior menilai bahwa yunior banyak kekurangan," ujar Suteno saat membacakan amar dakwaan di PN Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 19 September 2017.

Kekurangan yang dimaksud para taruna senior tingkat tiga Akpol Semarang seperti diungkap Suteno adalah yunior banyak bersikap apatis, jarang menghadap senior, tidak memperhatikan junior di tingkat lebih bawah, dan banyak yang saling menjelek-jelekkan. Menurut Suteno, pada pukul 01.00 WIB, sebanyak 21 taruna tingkat dua berkumpul sesuai perintah senior termasuk Muhammad Adam. 

"Kemudian senior memberi teguran dan arahan kepada junior. Selanjutnya wadansuk Gibrail Chartens Manorek mengecek jumlah junior dan memberi arahan kepada junior dengan istilah hukuman fisik," terang Suteno.

Suteno mengungkap tingkatan hukuman fisik yang diterima para taruna tingkat dua. Mereka, kata Suteno, diminta membuat sikap tobat dengan posisi sujud lutut dan pantat bertumpu pada dua lutut.

Selain itu, junior diminta membuat sikap marching dengan posisi tubuh berdiri dengan bertumpu pada dua lutut. Mereka juga diminta membuat sikap roket dengan posisi kepala di bawah sebagai tumpuan di bantu kedua tangan, sedang kaki berdiri di atas.

Hukuman fisik berikutnya disebut dengan istilah kipas cendrawasih di mana senior menampar berulang kali dan bolak-balik di pipi kanan-kiri junior, hukuman Dewa Ruci di mana junior dipukul atau dipecur pada pangkal paha bagian belakang. 

"Pukulan tagtem (di mana) memukuli (junior) yang dilakukan oleh dua orang dari arah kanan dan kiri secara bersamaan. Pukulan roda gila yaitu menggunakan tangan terkepal atau siku di mana posisii yang dipukul telentang diangkat oleh teman lainnya," terang Suteno.

Akibat kekerasa akibat pemukulan oleh para terdakwa, berdasarkan visum et repertum para korban mengalami memar-memar di beberapa bagian tubuh. Muhammad Adam meninggal dunia usai menerima 'teguran dan arahan' dari para senior.


(RRN)