Anak Korban Penyiksaan Rentan Minder Saat Dewasa

Patricia Vicka    •    Jumat, 18 Nov 2016 18:59 WIB
penganiayaan anak
Anak Korban Penyiksaan Rentan Minder Saat Dewasa
Ilustrasi (Metrotvnews.com/M Rizal)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Penyiksaan pada anak kembali menimpa JW bocah lelaki berusia 1,5 tahun asal Jebres Solo Jawa Tengah. JW ditendang, dipukul, giginya dipatahkan oleh tang, hingga disekap dalam kulkas dan mesin cuci oleh majikan sang ibu berinisial AC. 

Psikolog dari UGM Neila Ramdhani menilai sang korban harus segera mendapatkan pendampingan penyembuhan psikologi yang intensif dalam waktu lama untuk mengembalikan kondisi psikologinya. 

Sebab, kata dia, anak korban kekerasan berpotensi kehilangan kepercayaan diri di masa depan. Ia menjelaskan, tindakan kekerasan yang dilakukan pada anak akan membuat si anak merasa ditolak, tidak diterima apa adanya. 

"Ini membuat harga diri si anak hilang. Bisa jadi minder, ga PD, ga gampang percaya sama orang lain. Sehingga ke depan dia akan kesulitan bergaul," tutur Dosen Psikologi UGM ini kepada Metrotvnews.com, di Yogyakarta, Jumat (17/11/2016). 

Baca: Sadis, Balita Disiksa Hingga Cacat

Selain itu, pukulan yang diterima si anak bisa memicu dirinya menjadi agresif dan gampang memukul di masa dewasa. 

Ia menegaskan orang tua berperan penting dalam proses penyembuhan psikologi anak. Orang tua harus meyakinkan dan memberi kenyamanan si anak agar sang anak merasa aman terlindungi. 

"Orang tua harus meyakinkan si anak kalau tidak semua orang dewasa kejam. Ada orang tua yang akan selalu melindungi di samping anak dari kejahatan dunia," ujar dia.

Baca: Balita Korban Penyiksaan Trauma Lihat Kulkas & Mesin Cuci

Akibat penyiksaan itu JW kini trauma dan menangis histeris ketika melihat kulkas, es batu, dan mesin cuci. Untuk menghilangkan trauma itu, ia meminta orang tua sabar menjelaskan kepada anak bahwa tak ada yang salah dengan benda tersebut. 

"Jelaskan dengan sabar dan dengan cara-cara yang mudah dimengerti anak," kata dia.

 


(UWA)