Balita Korban Penyiksaan Trauma Lihat Kulkas & Mesin Cuci

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 17 Nov 2016 13:23 WIB
penganiayaan anak
Balita Korban Penyiksaan Trauma Lihat Kulkas & Mesin Cuci
Sartini (membawa tas) dan anaknya, JM, korban tindak kekerasan majikan. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Sleman: Sartini, 36, ibu balita korban kekerasan meminta polisi menghukum berat majikannya. Sebab, sang majikan yang berinisial AC, berulang kali melakukan tindak kelerasan terhadap putranya.

Putra Sartini, JM, 1,5 tahun, mengalami sejumlah tindak kekerasan dari majikan. Mulai dari ditempeli besi panas, dimasukkan ke dalam kulkas, bahkan dimasukkan ke dalam mesin cuci. Akibatnya, JM saat ini mengalami trauma ketika mendengar suara mesin cuci.

"Kalau (JM) mendengar suara mesin cuci atau orang teriak, anak saya nangis. Kalau lihat kulkas juga (nangis)," kata Sartini, saat ditemui di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polda DIY, Kamis (17/11/2016).

Warga Pucungsari, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, ini berharap polisi menghukum berat majikannya. Sebab, anaknya kini tak hanya mengalami trauma, namun sejumlah anggota tubuhnya menjadi tidak normal.

"Harapannya, ya, majikan ditangkap. Dihukum seberat-beratnya," ujar dia.

Baca: Sadis, Balita Disiksa Hingga Cacat

Kepala Unit PPA Polda DIY, Kompol M. Retnowati, mengatakan telah melihat hasil pemeriksaan sementara putra Sartini. Ia menyebutkan, bekas luka JM ada di sejumlah bagian. Yakni, perut sisi kiri bekas terkena besi panas, kemaluan yang pernah disiram air panas, gigi dipatahkan paksa dengan tang, serta jari kaki yang kini tidak dalam kondisi sempurna.

"Kita periksakan keseluruhan di RS Bhayangkara Polda DIY. Kami juga akan mendalami lagi kasus ini," jelasnya.

Baca: Pengakuan Ibu Balita Korban Penyiksaan Majikan

Sartini dan putranya, JM, 1,5 tahun, menjadi korban kekerasan majikannya, AC, yang beralamat di Jalan Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. 

Disekap pada Februari hingga September lalu, Sartini dan putranya mendapatkan sejumlah tindak kekerasan dari majikan. Setelah berhasil kabur dan menenangkan diri, Sartini memberanikan diri lapor ke polisi, 15 November.


(UWA)