Sudah Kucing Kesayangan Mati, Pria Ini Terancam Dibui

Patricia Vicka    •    Rabu, 02 Nov 2016 16:05 WIB
pencemaran nama baik
Sudah Kucing Kesayangan Mati, Pria Ini Terancam Dibui
?Fatkhur menunjukkan status FB yang menjerat dirinya ke Bui di kantor LBH jalan Ngeksigondo Yogyakarta, Rabu (2/11/2016). Foto: Metrotvnews.com/Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sudah kucing kesayangan temannya mati, Fatkhurrohman, 26, pun terancam masuk bui. Ini lantaran dia menumpahkan amarah di dinding akun Facebook-nya terhadap klinik hewan yang menyebabkan kucingnya mati.

Fathur, panggilan akrabnya, menjelaskan, kejadian bermula saat ia membawa kucing persia milik temannya, Indra, ke Klinik Hewan Noorpet di Jalan Solo KM 10.5 Sleman Yogyakarta pada 18 Agustus 2015. Ia hendak mencukur bulu badan Boy, sang kucing. Pemilik klinik, Dewi Syamsuri, yang melihat ada kelainan di salah satu mata Boy.

"Lalu dia mencukur bulu mata Boy dan matanya diberi obat tetes," tutur Fathur saat meminta bantuan ke LBH Yogyakarta, Rabu (2/11/2016). 

Usai dicukur, beberapa hari kemudian mata sang kucing yang berusia 8 bulan ini malah tambah parah dan membengkak. Lantas ia membawa kucing itu ke RS Hewan Soeparwo UGM Yogyakarta. 

"Setelah dari klinik hewan, mata si Boy yang sakit, tambah parah. Dia iritasi dan bengkak. Dokter di RSH lalu mengatakan seharusnya Boy dioperasi, bukan dipotong bulu matanya," kata Fathur.

Beberapa hari kemudian, Boy mati.

Fathur menduga Klinik Naroopet melakukan malapraktik. Apalagi ia mendapat info kalau pemilik klinik tersebut bukan dokter atau paramedis.

Kesal dengan kematian Boy, 20 Februari 2016 Fathur menumpahkan kekesalan di dinding Facebook-nya. Isinya sebagai berikut, 

"Kembali mengingat Tragedi Kematian si Boy. Ini salah satu bukti kalo yang nanganin kucingku ternyata bukan dokter. Hanya seorang gila yang sok2an berlagak pinter. Bagi pendukung tu klinik, kalian sma aj, sampaaah. Berpendidikan tapi ternyata nol, bego kabeh. Apapun yang ak posting dulu berdasarkan fakta, bukan mencemarkan nama baik maupun cari sensasi atau pencitraan semata." 

Tulisan itu disertai dua foto saat Sri Dewi memeriksa Boy. 

Tak terima, Sri Dewi melaporkan status tersebut dengan dugaan pencemaran nama baik ke Polda DIY. Fathur kemudian ditetapkan sebagai tersangka dengan jeratan UU ITE Pasal 45 Ayat 1 jo Pasal 27 Ayat 3 pada Oktober 2016. 

"Profil FB saya di-privat dan saya tak berteman dengan bu Sri Dewi. Tiba-tiba saya dipanggil Polda sebagai saksi. Lalu saya ditetapkan jadi tersangka," kata dia.

Ia kini meminta bantuan Lembaga Bantuan Hukum untuk membantu mendampingi kasusnya.


(UWA)