Sejarah Pengangkatan Hamengkubuwono X jadi Gubernur DIY

Patricia Vicka    •    Selasa, 10 Oct 2017 14:15 WIB
pelantikan gubernuryogyakarta
Sejarah Pengangkatan Hamengkubuwono X jadi Gubernur DIY
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X (baju kuning). Foto: MTVN/Patricia Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Raja Ngayogyakarta otomatis menjadi Gubernur DI Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono X bakal kembali dilantik jadi Gubernur DIY. Namun ada sejarah panjang di balik administrasi DIY nan istimewa ini.

Sri Sultan Hamengku Buwono X lahir pada 2 April 1946 dengan nama kecil Bendoro Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito. Ia adalah putra tertua Sri Sultan Hamengku Buwana IX dari istri keduanya, KRA Widyaningrum.

Dia memiliki dua adik laki-laki serta seorang kakak wanita. Sebagai anak laki-laki tertua ia kemudian dipilih menjadi putra mahkota. Namanya pun berubah seiring status yang melekat kepadanya.

Herjuno kini bernama Kanjeng Gusti Pangeran Hario (KGPH) Mangkubumi. Gelar putra mahkotanya saat itu adalah KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram.

“Ia pun sering ikut mendampingi sang ayah bertugas baik dalam negri maupun Luar negri,” ujar Sejarawan UGM Djoko Suryo melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Selasa 10 Oktober 2017.

Diangkat jadi Raja Nyayogyakarta

Herjuno diselimuti duka pada Oktober 1988 karena Sri Sultan HB IX wafat. Herjuno pun diangkat sebagai raja Ngayogyakarta tanggal 7 Maret 1989 setelah melalui serangkaian prosesi pemilihan oleh seluruh keluarga dan kerabat Keraton Yogyakarta.

Gelarnyapun berubah menjadi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Dia pun lebih dikenal dengna nama Hamengkubuwono X (HB X).

"Pengangkatannya jadi raja saat itu meriah sekali. Puluhan ribu orang berbondong-bondong ke Keraton Yogyakarta untuk menyaksikannya. Usai penobatan ia diarak dengan kereta kencana keliling kota," kata Djoko.

Saat itu ia sudah menikah dengan Tatiek Drajat Suprihastuti, yang kini dikenal dengan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Dia dan GKR Hemas dikaruniai lima orang putri.

Tak langsung jadi Gubernur Yogyakarta

Usai menjabat sebagai raja, HB X tak langsung diangkat menjadi Gubernur DIY. Padahal, Presiden Soekarno menetapkan Sultan HB IX sebagai raja sekaligus Gubernur DIY karena keistimewaan Yogyakarta.

Usai HB IX wafat, Sri Paduka Paku Alam VIII yang dipilih menjadi  Gubernur DIY ke-dua. Baru pada tahun 1998, HB X dilantik menjadi Gubernur DIY untuk lima tahun ke depan sejak tangal 3 Oktober 1998.

Setelah masa jabatanya sebagai menjadi Gubernur ke-tiga berakhir, jabatannya sebagai Gubernur terus diperbarui setiap lima tahun.

Periode kepemimpinannya pada 1998-2003 tidak didampingi oleh Wakil Gubernur. Baru pada periode 2003-2008 ia didampingi Sri Paduka Paku Alam IX sebagai Wakil Gubernur.

Tahun 2008, ia menjabat kembali sebagai GUbernur DIY bersama Sri Paduka Paku Alam IX. Legitimasinya sebagai  Raja Yogyakarta sekaligus Gubernur diperkuat dengan lahirnya Undang- Undang Keistimewaan (UUK) Tahun 2012, dan disusul dengan adanya Perdais serta Dana Keistimewaan.

Dalam UUK jelas disebutkan bahwa Gubernur DIY adalah Raja Yogyakarta yang berkuasa. Sementara Wakil Gubernur adalah Raja Kadipaten Paku Alaman yang berkuasa.

Caranya berpolitik

Selama masa kepemimpinannya sebagai Gubernur, Sri Sultan pernah berkecimpung di dunia politik melalui partai Golkar. Namun ia cenderung netral dan tak berpolitik saat menjalankan roda pemerintahannya. Dia kerap kali mendapatkan penghargaan. Di antaranya gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta pada 2011 karena kiprahnya melestarikan kebudayaan.

Saat memerintah, HB X selalu berpegang pada filosofi Jawa "Hamemayu Hayuning Bawono" yang menciptakan kenyamanan, "Manunggaling Kawula Gusti" mengajarkan ketauladanan, "Golong Gilig" yang mencerminkan gotong royong. Dia juga memgang Watak Satriya yang terdiri dari  "Sawiji, Greget, Sengguh Ora Mingkuh" yang dimaknai jati diri yang kuat tetapi tetap terbuka.

“Berkat pengalamannya mendampingi sang ayah, saya rasa ia tak perlu waktu lama untuk bisa menjadi pemimpin yang baik bagi rakyat Yogyakarta,” ujar Djoko.

Ia pun kembali ditetapkan sebagai Gubernur oleh DPRD DIY pada 2 Agustus 2017 dalam rapat paripurna di kantor DPRD DIY. Sebelum ditetapkan, Sri Sultan HB X memaparkan visi misi kepemimpinannya untuk lima tahun mendatang.

Kejayaan Samudra Hindia, ambisinya membangun dan memajukan wilayah DIY di pesisir Samudra Hindia.


(SUR)