Pemprov Jateng Akan Hapus Surat Miskin Siswa Baru

Mustholih    •    Selasa, 08 Jan 2019 14:41 WIB
Program Pendidikan
Pemprov Jateng Akan Hapus Surat Miskin Siswa Baru
Masyarakat melakukan demo atas penyalahgunaan SKTM, ANT/Agus Bebeng.

Semarang: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang merancang Peraturan Gubernur tentang penghapusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai syarat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, perancangan Pergub tersebut turut melibatkan masyarakat di 13 cabang Dinas Pendidikan se-Jawa Tengah.

"Meski SKTM dihapus, siswa miskin tidak usah khawatir. Siswa miskin kami pastikan tetap bisa sekolah dan dibiayai oleh negara, minimal 20 persen dari aturan Permendigbud. Itu minimal, jadi masih bisa lebih dari itu," kata Ganjar di Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 8 Januari 2019.

Baca: Mendikbud: Kemungkinan SKTM Tidak Berlaku

Ganjar menjelaskan, dengan dihapusnya SKTM sebagai syarat masuk sekolah SMA/SMK, siswa miskin memang tidak bisa lagi memilih sekolah yang diinginkan. Sebab, penerimaan siswa baru hanya berdasarkan jalur nilai dan prestasi akademik.

"Kami jamin siswa miskin tetap bisa sekolah. Namun mohon maaf tidak bisa sekolah sesuai keinginan. Silahkan sekolah sesuai nilai dan prestasi akademikmu. Nanti negara akan memberikan biaya," jelas Ganjar.

Ganjar meminta masyarakat tidak resah setelah dikeluarkannya Pergub penghapusan SKTM tersebut. Pemprov Jateng tetap berkomitmen memberi bantuan untuk siswa miskin dari Rp700 ribu per anak menjadi Rp1 juta per anak.

"Jumlah itu akan terus kami tingkatkan, jadi penghapusan SKTM ini jangan membuat orang tua siswa yang benar-benar miskin menjadi resah. Kami akan tetap menjamin anak miskin bisa sekolah di Jawa Tengah," beber Ganjar.

Maraknya kasus penyelewengan SKTM pada 2017-2018 memjadi musabab Ganjar mengeluarkan Pergub tersebut. SKTM justru mencoreng dunia pendidikan Jateng karena ulah orang tua yang mampu secara ekonomi tapi mengaku miskin.

"Pemprov Jateng akan terus meningkatkan kualitas sekolah-sekolah. Nantinya, tidak ada lagi sekolah terfavorit karena semua sekolah akan dijadikan favorit," pungkas Ganjar.
(DEN)