Lima Suku Hidup Damai di Karimunjawa

Rhobi Shani    •    Jumat, 19 May 2017 16:02 WIB
kerukunan beragama
Lima Suku Hidup Damai di Karimunjawa
Tradisi Barikan Qubro yang diselenggarakan masyarakat Karimunjawa

Metrotvnews.com, Jepara: Kepulauan Karimunjawa merupakan gugusan 27 pulau yang berada di tengah laut Jawa. Dari 27 pulau, hanya lima pulau yang berpenghuni. Jumlah jiwa yang menghuni lima pulau ini lebih kurang 10 ribu orang.
 
Pulau berpenduduk paling banyak dan paling besar adalah pulau Karimun Besar. Kemudian di susul pulau Kemujan. Di pulau (desa) ini, dihuni warga dari lima suku. Yaitu, Jawa, Madura, Bugis, Bajo, dan Mandar.
 
Sekertaris Camat Karimunjawa, Nor Soleh menyampaikan, warga suku Jawa mendominasi di Desa Karimun dan Desa Kemujan. Meski begitu, bukan berarti warga bersuku selain Jawa tersisih di Karimunjawa. Bahkan, sampai saat ini tidak pernah terjadi perkelahian warga antarsuku.
 
“Justru sekarang saya sedang mendorong warga Bugis untuk menghidupkan kembali kebudayaan mereka yang dulu pernah ada di Karimunjawa,” ujar Soleh yang keturunan Mandar, Jumat 19 Mei 2017.
 
Perbedaan warga antarsuku paling nampak, disampaikan Soleh, pada penggunaan bahasa sehari-hari. Warga Bugis di Karimunjawa sampai saat ini masih mengalami kesulitan berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa.
 
“Bentuk rumah warga bugis juga berbeda, yaitu rumah dengan konsep rumah panggung. Kalau ada warga yang membangun rumah, kami saling membantu gotongroyong tidak memandang suku apa,” kata Soleh.
 
Tokoh pemuda Karimunjawa Djati Utomo menambahkan, pada acara besar yang diselenggarakan desa semua warga berkumpul jadi satu tak memandang suku. Seperti acara rutin tahunan Barikan Qubro, warga suku Jawa, Madura, Bugis, Bajo, dan Mandar  berbaur menjadi satu. Meskipun, acara Barikan Qubro kental dengan nuansa Jawa.
 
“Setiap ada acara kami tidak pernah mengkhususkan untuk suku tertentu. Acara di Karimunjawa ya, untuk semua warga,” kata Djati.
 
Ditambahkan Djati, perbedaan suku di Karimunjawa tidak menjadi penghalang dalam urusan berumahtangga. Perkawinan antarasuku bukan hal yang tabu. Saat menggelar pesta pernikahan, kedua suku yang berbeda bisa dipadukan.
 
“Seperti pernikahan nuansanya Jawa, tapi pemilihan warnanya yang ngejreng-ngejreng khas budaya Bugis,” beber Djati. 


(ALB)