Kemarau Belum Berdampak Signifikan di Kulon Progo dan Sleman

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 26 Jul 2017 10:53 WIB
kemarau dan kekeringan
Kemarau Belum Berdampak Signifikan di Kulon Progo dan Sleman
Kondisi Selokan Mataram yang masih teraliri air, meskipun dengan debit yang berkurang saat musim kemarau -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Musim kemarau yang terjadi sejak dua bulan lalu belum berdampak signifikan bagi warga di Kabupaten Kulon Progo dan Sleman. Aktivitas warga masih berlangsung seperti biasanya.

"Hingga saat ini, belum ada permintaan dropping air dari masyarakat," kata Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo Hepi Eko Nugroho, Rabu 26 Juli 2017.

Hepi mengatakan, kemungkinan sudah banyak jaringan saluran air ke rumah warga. Selain itu, sebagian masyarakat di Kulon Progo memiliki kepedulian untuk memelihara sumber air.

"Masyarakat peduli menggunakan bantuan air seperlunya. Pada kemarau 2016, BPBD juga tidak melakukan dropping bantuan air bersih," ujarnya.

Meski belum ada permintaan bantuan air bersih, BPBD Kulon Progo tetap menyiapkan pasokan air bersih. Sebab, sudah lebih dari sepekan Kulon Progo tak diguyur hujan.

Menurut Hepi, BPBD Kulon Progo tak menyediakan anggaran khusus untuk menyiapkan pasokan air bersih. "Kami diberi kewenangan memakai dana tak terduga jika banyak masyarakat minta bantuan," ujarnya.

Jika nanti menyalurkan bantuan, pihak BPBD akan meminta data lengkap langsung dari masyarakat. Jika ada bantuan lain, seperti dari Dinas Sosial (Dinsos) maupun instansi lain, diminta melakukan koordinasi agar tidak terjadi dobel penyaluran.

"Kami (BPBD) menyiapkan sumber daya manusia dan air. Mau dapat bantuan dari mana pun, koordinasi saja. Biasanya kita koordinasi dengan Dinsos dan Tagana," ungkapnya.

Sementara, di Kabupaten Sleman, ada dua kecamatan yang biasanya rawan kekurangan air saat musim kemarau. Masing-masing adalah Kecamatan Gamping dan Prambanan. Namun, masyarakat di dua kecamatan itu sejauh ini belum ada yang mengajukan bantuan air bersih.

"Mungkin karena sistem jaringan air masih berjalan dengan baik, meskipun debit airnya berkurang. Tapi, kami tetap melakukan pemantauan selama musim kemarau ini," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan.

Sejumlah lahan pertanian di Sleman masih bisa ditanami. Salah satu sumber pengairannya memakai air dari saluran Mataram atau yang lebih dikenal dengan sebutan Selokan Mataram.

Hingga pekan keempat Juli, saluran yang membentang di Yogyakarta sepanjang 31,2 kilometer tersebut masih teraliri air meskipun debitnya jauh berkurang. Di sisi lain, masa kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2017.

BPBD Sleman, tambah Makwan, menyiapkan bantuan 50 tangki air bersih. "Jika kurang, kami akan ajukan ke Dinas Sosial provinsi," tuturnya.


(NIN)