Lazismu Salurkan Bantuan Rp20 Miliar untuk Etnis Rohingya

Mustholih    •    Sabtu, 04 Nov 2017 12:10 WIB
konflik myanmarrohingya
Lazismu Salurkan Bantuan Rp20 Miliar untuk Etnis Rohingya
Presiden Direktur Lazismu Andar Nubowo -- MTVN/Mustholih

Metrotvnews.com, Semarang: Lembaga Amil, Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) berhasil menghimpun dana USD2 juta atau setara Rp20 miliar bagi etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar. Dana tersebut rencananya sebagian disalurkan untuk program pemulihan bangunan yang mengalami kerusakan di Rakhine State akibat konflik etnis.

"Jadi, kita akan mendirikan rumah sakit, sekolah, dan pasar perdamaian. Tapi, kita tidak hanya melibatkan etnis muslim, tapi juga etnis-etnis lain. Agar tercipta komunikasi antaretnik yang bertikai di sana," kata Presiden Direktur Lazismu Andar Nubowo di Semarang, Jawa Tengah, Jumat 3 November 2017.

Sebagiannya lagi, kata Andar, bakal disalurkan untuk program bantuan pangan dan obat-obatan bagi etnis Rohingya yang mengungsi di Bangladesh. Program pemulihan dan bantuan ini bakal digelar dari Oktober 2017 hingga Maret 2018.

"Ini luar biasa, betapa masyarakat Indonesia sangat peduli terhadap kemanusiaan, terutama saudara kita di Rohingya yang tertimpa musibah," ujar Andar.

Menariknya, bantuan Rp20 miliar untuk etnis Rohingya tersebut berhasil dihimpun Lazizmu hanya dalam tempo sebulan. Menurut Andar, Lazismu melakukan penggalangan dana pada 1-30 September 2017.

"Dalam waktu sebulan itu, Lazismu berhasil menghimpun dana USD1,5 juta atau Rp20 miliar untuk etnis Rohingya. Ini luar biasa," tegas Andar.

Gelombang Eksodus Etnis Rohingya ke Bangladesh
Corona Rintawan selaku Program Manager Muhammadiyah Aid menambahkan, hingga saat ini pemerintah Myanmar masih menutup akses bantuan bagi etnis Rohingya. "Awal November tim Indonesia baru bisa masuk," lanjutnya.

Menurut Corona, terjadi gelombang eksodus etnis Rohingya ke Bangladesh akibat kekerasan di Myanmar. Mereka pergi mengungsi demi menghindari kekerasan yang meluas di Rakhine State.

"Sejak 1980 sebenarnya sudah ada pengungsi Rohingnya sekitar 300 ribu orang. Tapi, sejak 25 Agustus 2017 sampai sekarang jumlah pengungsi membengkak hingga 844 ribu lebih. Ini tragedi kemanusiaan yang berat," jelas Corona.

Corona menjelaskan, kondisi warga Rohingya di pengungsian begitu memprihatinkan. Mereka banyak terkena penyakit infeksi saluran pernafasan atas dan diare akut.

"Dari 100 persen angka kematian yang dilaporkan, 40 persennya balita," ujar Corona tanpa menyebut detail angka warga Rohingya yang meninggal di pengungsian.


(NIN)