Ketua IDI Yogyakarta Minta Dokter Anak Tunda Pemberian Vaksin Dengue

Agus Utantoro    •    Jumat, 08 Dec 2017 10:43 WIB
demam berdarahimunisasi
Ketua IDI Yogyakarta Minta Dokter Anak Tunda Pemberian Vaksin Dengue
Ilustrasi

Yogyakarta: Dokter spesalis anak yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Kota Yogyakarta FX Wikan Indrarto meminta rekan-rekan sejawatnya menunda pemberian vaksin dengue.

"Ada risiko infeksi, dengue justru menjadi lebih berat, sehingga pemberian vaksin dengue perlu ditinjau ulang," kata Wikan di Yogyakarta, Jumat, 8 Desember 2017.

Wikan menjelaskan demam berdarah dengue (dengue) adalah penyakit infeksi yang disebabkan virus dengue, sebuah flavivirus yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini telah menyebar ke sebagian besar wilayah subtropis tropis dan tropis.

Menurut Wikan, tidak ada terapi pada dengue yang spesifik. Tindakan pencegahan saat ini masih terbatas pada pengendalian vektor nyamuk.

"Vaksin dengue diharapkan berperan besar dalam pengendalian penyakit ini karena epidemi global dengue meningkatkan kekhawatiran semua pihak," katanya.

(Baca: Uji Coba Vaksin DBD Diklaim Sukses)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut Wikan, menargetkan vaksin menjadi bagian yang terintegrasi pada strategi pencegahan dan kontrol dengue (2012-2020). "WHO Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) tentang imunisasi telah memberikan ulasan tentang vaksin dengue pada April 2016 dan banyak negara dianjurkan mempertimbangkan penggunaan vaksin dengue di areal geografis (nasional atau regional), dengan endemisitas tinggi," terangnya.

Vaksin dengue pertama, Dengvaxia (CYD-TDV), diproduksi industri farmasi Sanofi. Pertama kali terdaftar di Meksiko pada Desember 2015.

CYD-TDV adalah vaksin rekombinan tetravalen dari virus dengue hidup yang telah diteliti dengan pemberian tiga dosis pada jadwal nol, enam, dan 12 bulan, dalam uji klinis Tahap III. CYD-TDV ini, kata Wikan, telah terdaftar untuk digunakan pada kelompok usia 9-45 tahun yang tinggal di daerah endemik dengue.

(Baca: Mengapa Vaksin Dangue Hanya Untuk Usia 9 Tahun ke Atas?)

Wikan menuturkan CYD-TDV telah diteliti dalam dua penelitian uji klinis Tahap III, yaitu CYD14 di lima negara Asia dan CYD15 di lima negara Amerika Latin. Data penelitian diambil pada fase aktif termasuk tindak lanjut selama satu tahun setelah pemberian vaksin dosis terakhir atau 25 bulan dari dosis pertama, juga tindak lanjut di rumah sakit dalam tambahan waktu empat tahun.

Penelitian uji klinis ini juga melibatkan anak berusia kurang dari 9 tahun yang sebenarnya merupakan kelompok umur yang tidak termasuk dalam indikasi vaksinasi. Wikan menyebutkan efikasi atau keampuhan vaksin CYD-TDV terhadap infeksi dengue adalah 59,2% pada tahun pertama dan terhadap dengue berat adalah 79,1%.

Efikasi atau khasiat vaksin bervariasi bergantung serotipe virus, di mana keampuhan vaksin lebih tinggi terhadap serotipe DEN 3 dan 4 (masing-masing 71,6% dan 76,9%,) daripada untuk serotipe DEN 1 dan 2 (54,7% dan 43,0%). "Ternyata khasiat vaksin juga bervariasi berdasarkan usia saat dilakukan vaksinasi dan paparan dengue sebelum vaksinasi," ujar Wikan.

Efikasi vaksin stabil pada semua subjek yang berusia sembilan tahun atau lebih, yaitu 65,6%. Sedangkan, pada subyek yang berusia kurang dari 9 tahun hanya 44%.

"Dokter harus menilai kemungkinan infeksi dengue sebelumnya pada seorang anak, untuk menentukan apakah mereka harus mendapatkan vaksin tersebut. Bagi anak yang belum pernah terinfeksi virus dengue, vaksinasi sebaiknya tidak dianjurkan. Sanofi akan menanggung kerugian sebesar 100 juta euro secara global. Untuk itu, bagi anak yang telah menerima vaksin dengue dianjurkan segera kembali menghubungi dokter spesialis anak yang memberikan vaksin tersebut untuk dipantau keadannya lebih lanjut," pungkasnya.


(NIN)