Mahfud Sarankan DPR Pecat Novanto sebagai Ketua

Patricia Vicka    •    Selasa, 21 Nov 2017 15:54 WIB
korupsi e-ktpsetya novantopergantian ketua dpr
Mahfud Sarankan DPR Pecat Novanto sebagai Ketua
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud M.D. -- MTVN/Patricia Vicka

Yogyakarta: Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud M.D. menilai Setya Novanto harus segera mundur sebagai Ketua DPR. Jika Novanto tidak mau, DPR disarankan memecat Ketua Umum Golkar itu.

Sejak Novanto ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lanjut Mahfud, posisi ketua DPR otomatis mengalami kekosongan. Sudah sepantasnya Novanto berlapang dada dan mengundurkan diri dari jabatannya.

"Masa DPR tidak ada ketuanya. Masa DPR ketuanya ditahan. Saya minta dipecat saja (Setnov), kalau tidak mau mundur," kata Mahfud saat mengunjungi Kantor Kepatihan Yogyakarta, Senin, 20 November 2017.

(Baca: Fahri: Novanto Masih Ketua DPR)

Menurut Mahfud, pengunduran diri Novanto demi kepentingan rakyat. Sebab, DPR adalah milik rakyat, bukan milik sekelompok golongan. Jika jabatan Ketua DPR mengalami kekosongan, dikhawatirkan akan mengganggu jalannya kegiatan negara.

Mahfud juga mengkritik ucapan pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, yang dianggapnya kerap berlebihan dan salah sasaran. Salah satunya terkait meminta perlindungan kepada TNI.

"TNI itu bukan aparat penegak hukum, tapi unsur yang bertindak sebagai pelindung ideologi dan kedaulatan negara. Permintaan tersebut tidak relevan, sebab TNI bukan bertugas melindungi terduga pelaku kriminal," jelasnya.

Rencana Fredrich melaporkan kasus Novanto ke Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional juga dinilai tidak tepat sasaran. Sebab, Pengadilan HAM tidak mengurusi kasus perorangan, melainkan kasus hukum yang menimpa banyak individu.

(Baca: Pengacara Novanto tak Luput dari Sindiran)

Sebagai informasi, Novanto dijerat KPK sebagai tersangka kasus dugaan korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el). Dia diduga telah menguntungkan diri sendiri dan korporasi dari megaproyek tersebut.

Nama Novanto tercantum dalam surat dakwaan untuk Andi Agustinus alias Andi Narogong, pengusaha pemenang tender proyek KTP-el. Dia disebut sebagai kunci anggaran proyek di DPR.

Novanto pun ditahan KPK setelah melalui 'drama' penangkapan. Pada Rabu, 15 November 2017, Novanto tiba-tiba menghilang dari rumahnya saat penyidik KPK datang untuk menjemputnya.

Sehari berselang, Novanto muncul di media massa dan memberikan keterangan bakal menyerahkan diri ke KPK. Namun, di tengah perjalanan, Novanto mengalami kecelakaan dan langsung dibawa ke RS Medika Permata Hijau.

Pada Jumat siang, 17 November 2017, Novanto dipindah ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ia sempat dirawat di sana hingga Minggu malam, 19 November 2017, sebelum dipindah ke rumah tahanan KPK pada Senin dini hari, 20 November 2017.


(NIN)