Patungan Beli Air Demi Mencukupi Kebutuhan

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 31 Jul 2017 19:41 WIB
kemarau dan kekeringan
Patungan Beli Air Demi Mencukupi Kebutuhan
Puluhan warga Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mengantre saat sebuah mobil bantuan air bersih tiba --MTVN/Mustaqim--

Metrotvnews.com, Gunungkidul: Puluhan warga Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mengantre saat sebuah mobil bantuan air bersih tiba. Usai mengantre, mereka secara bergantian mengulurkan wadah yang dibawa masing-masing dari rumah. 

Pemandangan seperti di Desa Melikan ini akrab terjadi di sejumlah wilayah di Gunungkidul selama musim kemarau. Puluhan ribu warga memang kesulitan air. 

Selain mengandalkan bantuan, warga harus memutar pendapatan keluarga agar bisa mendapatkan air. Caranya hanya dengan membeli air bersih secara patungan. 

"Saya beli air patungan dengan tetangga. Sudah tujuh kali saya patungan," ujar Parti, seorang warga Desa Melikan pada Senin, 31 Juli 2017. 

Untuk patungan itu, Parti harus mengeluarkan Rp70.000. Satu tangki air bersih biasanya dihargai Rp120.000. Pengeluaran untuk biaya membeli air itu cukup memberatkannya sebagai petani. 

"Biaya beli air ini tabungan hasil panen. Hasil panen ada yang untuk beli ternak dan perhiasan. Kalau ada kebutuhan kayak beli air ya kami jual perhiasannya," ujarnya. 

Saban musim kemarau panjang, Parti dan warga lain hampir dipastikan harus membeli air. Mereka tak punya pilihan lain. Meskipun, sesekali ada bantuan air bersih gratis di desa itu. 

Belasan tahun lalu, sebetulnya pemerintah setempat telah berupaya memasang pipa saluran air. Warga antusias menyambutnya. Namun, hingga kini pipa itu tak ada air setetespun yang mengalir. 

"Sebelum saya jadi kepala desa memang sudah terpasang pipa air. Tapi ya itu tidak ada airnya," kata Kepala Desa Melikan, Kartino. 

Di Desa Melikan, ada sebanyak 3.400 jiwa yang tersebar di 13 dusun. Dari 13 dusun itu, hanya satu dusun yang memiliki pipa saluran air yang mengalir. "Itu hanya di Dusun Tambak," ucapnya.

Menurut Kartino, pihak pemerintah desa belum lama ini telah berupaya mencari sumber air bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sayang, enam titik pencarian yang dikunjung tak membuahkan hasil. 

Dalam membantu kekeringan itu, pihal kepolisian setempat juga memberikan bantuan air bersih sebanyak 25 tangki. Bantuan itu sebagai bagian peringatan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke 65. 25 tangki air bersih disalurkan ke 1.135 kepala keluarga. 

"Bantuan air kami salurkan berdasarkan data polsek-polsek. Ini agar tepat sasaran," kata Kepala Polres Gunungkidul, AKBO Muhammad Arif Sugiyarto. 

Catatan BPBD Gunungkidul, sebanyak 33 desa di delapan kecamatan mengalami kekurangan air bersih. Setidaknya, ada 48 ribu jiwa terdampak kekeringan. 


(ALB)