BPBD Jawa Tengah Ingin Tambahan Pendeteksi Tsunami

Budi Arista Romadhoni    •    Senin, 14 Jan 2019 13:09 WIB
Mitigasi Bencana
BPBD Jawa Tengah Ingin Tambahan Pendeteksi Tsunami
Ilustrasi Seorang teknisi berjalan di samping sebuah alat sistem peringatan dini tsunami kawasan Indonesia dan Samudera Hindia yang diluncurkan di Tanjung Priok Jakarta, Rabu (19/9). Foto: Antara/Andika Wahyu.

Semarang: Wilayah pesisir pantai selatan Jawa Tengah baru mempunyai 69 Early Warning System (EWS) atau sirene pendeteksi tsunami. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Pramana mengatakan, jumlah tersebut baru mencapai 49 persen dari total kebutuhan alat pendeteksi tsunami.

"Idealnya Jawa Tengah mempunyai 144 alat pendeteksi tsunami. Itu kan alatnya dalam bentuk sirene yang dipasang mengapung di titik lokasi yang dianggap rawan tsunami. Tapi sementara ini, Kementerian ESDM baru bisa memasang 69 alat saja di sana," kata Sarwa di Semarang, Jawa Tengah, Senin, 14 Januari 2019. 

Sarwa menjelaskan, peralatan yang saat ini sudah terpasang berada di Purworejo sebanyak 12 unit, di Kabupaten Cilacap sebanyak 47 unit dan di Kebumen 10 unit.

Seharusnya peralatan pendeteksi tsunami tersebut bisa terpasang di sepanjang 289,07 kilometer sepanjang garis pantai selatan.

"Daya jangkau satu alat sejauh dua kilometer saja. Makanya yang terpasang sekarang masih sangat minim. Cuma ada 49 persen dari kebutuhan yang kita perlukan," jelas Sarwa.

Sarwa kembali mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengirimkan surat permintaan kepada pemerintah pusat untuk penambahan alat pendeteksi tsunami.

"Sering adanya gempa bumi di Pulau Jawa, gelombang tsunami masih berpotensi terjadi di kawasan pesisir kita," pungkas Sarwa.


(DEN)