Produksi Garam di Pesisir Selatan Yogya Terkendala Lahan

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 25 Jul 2017 17:21 WIB
harga garam
Produksi Garam di Pesisir Selatan Yogya Terkendala Lahan
Foto ilustrasi. (Metrotvnews.com/Rahmatullah)

Metrotvnews.com, Gunungkidul: Melejitnya harga garam tak turut dinikmati warga pesisir laut selatan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyebabnya, belum ada warga yang bertani garam meski telah mendapatkan pelatihan.

Padahal, para nelayan di Kabupaten Gunungkidul sempat mendapatkan pelatihan produksi garam pada 2013. Pelatihan diberikan karena wilayah ini punya garis pantai 76 kilometer dari total 113 kilometer garis pantai di DIY.

Pelatihan produksi garam di Pantai Sepanjang itu diselenggarakan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul. "Waktu itu harga garam Rp2.500 per kilogram," kata Ketua Nelayan Pantai Baron Gunungkidul, Sumardi saat dihubungi pada Selasa, 25 Juli 2017. 

Menurut Sumardi, pelatihan produksi garam digelar agar nelayan tak kehilangan sumber penghasilan saat musim paceklik ikan. 

Ia menceritakan, pelatihan pembuatan garam dilakukan dengan mengeringkan air laut di lahan penampungan. Akan tetapi, upaya tersebut menemui kendala. 

"(Kendalanya) di sini tidak ada lahan. Tanah yang dipakai itu pinjaman. Akhirnya pelatihan bikin garamnya tidak berkembang," katanya. 

Ia menilai upaya yang dilakukan pemerintah cukup bagus. Dia berharap pemerintah dapat membantu penyediaan lahan. "Agar nelayan tak bingung ketika sepi tangkapan (ikan)," tuturnya. 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul, Khairudin membenarkan ihwal pelatihan produksi garam untuk nelayan itu. Menurut dia, pelatihan itu dilakukan karena pernah ada masyarakat di pesisir pantai selatan Yogyakarta yang membuat garam.

"Potensi (produksi garam) ada. Untuk sekarang kami belum ada rencana untuk mengadakan (pelatihan produksi garam) lagi," ujarnya. 

Terkini, harga garam terus meningkat sejak dua bulan lalu. Di Pasar Argosari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, harga garam beryodium dari yang semula harganya Rp15 ribu per 10 bungkus menjadi Rp25 ribu. Sementara, harga garam non yodium atau garam krosok, dari Rp1.000 per kilogram menjadi Rp5.000 per kilogram.


(SAN)