Budaya Patriarki Picu Kekerasan Terhadap Anak

Patricia Vicka    •    Sabtu, 19 Nov 2016 11:24 WIB
penganiayaan anak
Budaya Patriarki Picu Kekerasan Terhadap Anak
Sartini (membawa tas) dan anaknya, JM, korban tindak kekerasan majikan. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Kekerasan yang menimpa anak di Yogyakarta masih banyak terjadi. Salah satu faktornya adalah absennya figur ayah dalam merawat dan memberi perlindungan pada anak. 

Humas Difirentia One, LSM yang bergerak di bidang perlindungan anak dan wanita, Rifka Anisa, menilai selama ini budaya patriarki di Yogyakarta membentuk perilaku bahwa kewajiban merawat dan mengurus anak ditekankan pada ibu. Padahal, peranan Ayah sangat penting untuk mencegah adanya kekerasan. 

"Ayah bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada sang anak. Sehingga anak berani menolak dan melawan ketika mendapat kekerasan, terutama kekerasan seksual," ujarnya kepada Metrotvnews.com melalui sambungan telepon, Sabtu (18/11/2016). 

Selain itu, faktor budaya orang tua yang mendominasi dan mengatur kehidupan anak turut memicu anak rentan menjadi korban kekerasan. Anak selama ini hanya dianggap sebagai objek yang bebas untuk diperintah dan disuruh.

Baca: Balita Korban Penyiksaan Trauma Lihat Kulkas & Mesin Cuci

"Anak seharusnya bebas memilih dan bebas berpendapat. Orang tua harus mendengarkan dan memperlakukan anak setara dengan orang dewasa. Sehingga, bisa menekan dan menghindari anak dari tindak kekerasan seksual," ujarnya.

Selama 2015 ada 38 laporan kekerasan yang terjadi pada anak yang diterima Difirentia One. Sebagian besar laporan kekerasan seksual pada anak usia sekolah.

 


(UWA)