Dinkes Klaim Warga Bantul Aman dari Virus Difteri

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 05 Dec 2017 18:58 WIB
Dinkes Klaim Warga Bantul Aman dari Virus Difteri
Seorang tenaga medis memberikan imunisasi Difteri Tetanus. Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto

Bantul: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengklaim tak ada warga Bantul terinfeksi bakteri difteri. Hal ini dinilai berkat upaya sosialisasi rutin dan imunisasi terjadwal bagi anak-anak. 

"Soal infeksi bakteri difteri kami tidak ada laporan khusus. Di DIY, khususnya Bantul masih aman," kata Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Abet Nego kepada Medcom.id melalui sambungan telepon pada Selasa, 5 Desember 2017. 

Abet berujar, Dinas Kesehatan Bantul selalu memantau setiap perkembangan imunisasi pada anak-anak di Bantul agar terhindar dari beragam virus, tak terkecuali difteri. Difteri yang merupakan infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit, sangat berbahaya. Bahkan bisa menyebabkan kematian. 

Menurutnya, Dinas Kesehatan bersama petugas Puskesmas rutin memantau jadwal anak-anak melakukan imunisasi. Imunisasi pada anak-anak dimulai saat usia dua bulan. Kemudian, diusia tiga bulan, empat bulan, dan 19 bulan. Vaksin dalam imunisasi diusia tersebut disebut DPT HB Hib. 

"Vaksi ini salah satunya untuk memberikan kekebalan tubuh anak agar terhindari dari potensi terserang virus," katanya. 

Imunisasi pada anak juga dilakukan pada usia  sekolah dasar. Dua nama vaksin imunisasi bagi anak di sekolah dasar yakni DT dan Td. Imunisasi tersebut bekerja sama dengan RSUD Panembahan Senopati dan 27 Puskesmas yang ada di Bantul. 

"Puskesmas ini ujung tombak dalam hal imunisasi. Merekalah yang bisa dekat dan langsung bertemu masyarakat. Kami juga ikut melakukan sosialisasi sesuai jadwal," ungkapnya. 

Namun, lanjutnya, cakupan imunisasi di usia sekolah dasar terkadang cukup rendah. Menurutnya, hal ini dipengaruhi berbagai faktor. 

Pertama yakni soal minimnya pemahaman tentang pentingnya imunisasi. Kemudian, ada sekolah yang menyerahkan masalah imunisasi kepada masing-masing orang tua anak. Ia mencontohkan sempat adanya sekolah yang menolak imunisasi measles rubella (MR) beberapa waktu lalu. 

"Kebanyakan yang imunisasinya diserahkan ke orang tua ini pihak sekolah swasta. Tapi kami berupaya melakukan sosialisasi menuruti keinginan pihak sekolah. Capaian imunisasi MR di Bantul kemarin 98,28 persen. Lebih tinggi di atas nasional yang menarget hanya 95 persen," tuturnya. 

Ia berharap, masyarakat Bantul yang memiliki anak balita bisa selalu memahami pentingnya imunisasi. Sebab, anak yang tak mendapat imunisasi akan memiliki kekebalan tubuh yang rendah. 

Apabila anak yang mendapat imunisasi akan rawan terkenal tetanus, hepatitis, miningitis, dan juga difteri. "Vaksi ini kan sifatnya memberi kelebalan. Anak yang diimunisasi akan terdampak lebih ringan jika terkena virus. Anak yang tak diimunisasi dan terkena virus dampaknya lebih berat," kata dia. 
(ALB)