Teror Turunkan Okupansi Hotel di Yogyakarta

Patricia Vicka    •    Jumat, 18 May 2018 16:31 WIB
pariwisata
Teror Turunkan Okupansi Hotel di Yogyakarta
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal

Yogyakarta: Teror di Surabaya dan beberapa daerh di Indonesia memengaruhi okupansi, atau tingkat hunian, hotel di Yogyakarta. Penurunan ini dipicu karena beberapa negara mengeluarkan travel advice ke Indonesia.

"Kemarin sempat turun sedikit. Sekitar 10 persenlah setelah teror di Surabaya. Sekarang makin turun karena masuk bulan puasa.," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Istijab Danunagoro di Yogyakarta, Jumat 18 Mei 2018.

Penurunan okupansi hotel ini semakin terdampak saat memasuki bulan puasa.
Kunjungan wisatawan ke Yogyakarta saat bulan puasa lebih sepi jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Ramadan pun diakui sebagai low season bagi pariwisata Yogyakarta.

Rata-rata okupansi Hotel merosot dan hanya terisi sekitar 30 persen saja. Padahal tingkat hunian hotel rata-rata mencapai 40-60 persen di hari biasa.

Sejumlah hotel memutar strategi dengan fokus meningkatkan penjualan makanan dan minuman. Para pengelola hotel berlomba-lomba menawarkan paket buka puasa bersama atau paket arisan rombongan.

"Ada juga yang menurunkan tarif atau bahkan banting harga untuk menggaet pengunjung. Biasanya harga menginap di hotel dijadikan satu paket dengan acara buka puasa bersama," jelas Istijab.

Namun, ia memprediksi tingkat hunian akan terbantu dengan liburan sekolah anak yang akan dimulai pada awal Juni. Selain itu kedatangan wisatawan asing dan nonmuslim diprediksi masih cukup membantu tingkat hunian hotel.

Tingkat okupansi hotel diperkirakan akan mulai merangkak naik sepuluh hari sebelum lebaran tiba.


(SUR)