Remaja Filipina dan India Takjub dengan Keharmonisan Indonesia

Patricia Vicka    •    Minggu, 06 Aug 2017 18:08 WIB
kerukunan beragama
Remaja Filipina dan India Takjub dengan Keharmonisan Indonesia
Jezzelyn Jimenez (JZ), 24, asal Filipina -- MTVN/Patricia Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Senyum tampak mengembang di bibir Jezzelyn Jimenez (JZ), 24. Dengan bersemangat, wanita asal Filiphina itu menggerak-gerakan tangan dan tubuhnya sambil bernyanyi mengikuti lagu Asian Youth Day (AYD) 2017.

Sesekali, JZ merangkul Tina, teman di sampingnya. Tina adalah wanita asal Indonesia.

"Saya senang tinggal di sini. Orang-orang Indonesia sangat rendah hati, sopan, ramah, dan bersahabat," kata JZ saat penutupan AYD 2017 di Lapangan Dirgantara Akademi Angkatan Udara, Jalan Laksda Adi Sucipto, Yogyakarta, Minggu 7 Agustus 2017.

JZ adalah satu dari 86 perwakilan Filiphina yang ikut dalam perhelatan AYD 2017. Sebelum acara digelar, JZ sempat merasakan tinggal di rumah penduduk sejak 31 Juli 2017.

Sepekan tinggal Yogyakarta diakui JZ mampu membuka mata dan pikirannya akan arti hidup harmoni dalam keberagaman. Ia pun merasa takjub dengan toleransi dan tenggang rasa masyarakat Indonesia yang disebutnya sangat tinggi dengan orang-orang yang berbeda agama dan suku.

Di Indonesia, lanjut JZ, seseorang yang berbeda agama, budaya, dan etnis bisa hidup berdampingan dengan rukun tanpa terkotak-kotak. Hal semaca ini tidak ia jumpai di Filipina yang sebagian besar penduduk beragama Katolik.

(Baca: Kalla Sebut Kedamaian Modal Utama Kemajuan Bangsa)

Menurut JZ, warga Filipina terbiasa hidup terpisah sesuai dengan agama. Ada tiga agama yang diakui di sana, yakni Katolik, Islam, dan Iglesia Ni Cristo.

"Di Filipina, saya yang beragama Katolik akan hidup terpisah dengan orang-orang yang beragama Islam atau Iglesia Ni Cristo," tutur wanita berambut panjang ini.

JZ bertekad akan menularkan harmonisasi dalam keberagaman di Indonesia pada warga Filipina. Ia juga akan lebih membuka diri kepada orang-orang yang berbeda agama dan etnis.

Senada, Sabrina, 22, peserta AYD 207 dari India, mengaku mendapat banyak pengalaman dan pelajaran selama berada di Yogyakarta. Tak adanya perbedaan perlakuan bagi yang berbeda agama dan suku membuat tersentuh.


Sabrina, 22, asal India -- MTVN/Patricia Vicka

Sabrina bercerita, di negaranya ada puluhan suku, agama, dan etnis. Hingga kini, masih kerap terjadi pemaksaan suatu agama kepada agama lainnya.

"Di India, agama mayoritas adalah Hindu. Pada saat hari besar agama Hindu, kami (yang beragama Katolik) diwajibkan ikut acara tersebut. Tidak jarang, warga yang memeluk agama mayoritas sering memaksakan ideologinya kepada agama lain," tutur wanita yang tinggal di Calcuta ini.

(Baca: Kalla Tekankan Pentingnya Perdamaian)

Sekembalinya dari Indonesia, Sebrina berharap bisa menularkan kedamaian dan keharmonisan. Apalagi, AYD selanjutnya akan digelar di India.

"Semoga dengan adanya AYD, para pemuda di India bisa terinspirasi menyuarakan persatuan dan perdamaian," tutur wanita yang datang bersama 86 remaja India lainnya.

AYD adalah kegiatan pertemuan perwakilan anak muda Katolik dari berbagai negara di Asia. Pertemuan ini dilakukan sekali dalam tiga tahun dalam rangka peningkatan spiritual kepada Tuhan.

Kegiatan ini digagas Federation of Asian Bishops' Conference (FABC) atau Federasi Konferensi uskup atau wali gereja se-Asia. Tahun ini, peserta yang terlibat di AYD sebanyak 1.100 orang dari Indonesia dan 900 peserta dari negara Asia lain. Selain itu, sebanyak 750 orang ikut menjadi sukarelawan.

AYD 2017 berlangsung pada 2-6 Agustus 2017 dengan tema `Coming Together as Multicultural Asia`. Sebelum acara dimulai, para delegasi tinggal di rumah warga di Yogyakarta.

 


(NIN)