Sungai Gede Karangrandu Kembali Menghitam

Rhobi Shani    •    Kamis, 02 Nov 2017 16:28 WIB
lingkunganpencemaranpencemaran sungai
Sungai Gede Karangrandu Kembali Menghitam
Air sungai Gede Karangrandu yang menghitam. FOTO: Rhobi Shani

Metrotvnews.com, Jepara: Air Sungai Gede di Desa Karangrandu Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kembali menghitam. Warga menuding, menghitamnya air sungai Gede Karangrandu akibat limbah pabrik. Pasalnya, pelaku usaha tahu tempe tak lagi membuang limbah ke sungai.
 
Seorang warga Desa Karangdu Fida Busro menyampaikan, air sungai kembali mengitam sejak beberapa hari terakhir. Padahal warga sudah melakukan sejumlah upaya. Salah satunya dengan menutup aliran limbah dari produsen tahu-tempe yang sebelumnya di alirkan ke Sungai Gede.
 
“Tapi ternyata tetap sama. Sungai masih menghitam. Kondisi ini membuat kami makin yakin jika air Sungai Gede memang tercemar limbah dari pabrik tekstil,” kata Fida Busro, Kmais 2 November 2017.
 
Baca: Sungai Tercemar, Pemkab Jepara Pasok Air Bersih

Kembali menghitamnya air sungai Gede tak pelak membuat warga resah, utamanya petani. Itu mengingat saat ini mulai memasuki musim tanam padi. Sementara, air irigasi kesemuanya bersumber dari sungai tersebut.
 
“Ternyata sekarang airnya hitam. Sehingga air tidak bisa digunakan,” kata Fida.
 
Berkait kasus pencemaran sungai Gede, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara mengaku belum dapat berbuat banyak. Pasalnya, kasus pencemaran ini telah ditangani Kementrian Lingkungan Hidup.
 
“Untuk kasus pencemaran di Sungai Karangrandu kan sekarang ditangani oleh Kementrian, nah hingga kini kami belum mendapatkan jawaban,” kata Nuraini, Kabid Pengendalian dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup pada DLH Jepara.

 Baca: Air Menghitam, Pemkab Jepara: Bukan Limbah Pabrik

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Penataan dan Penaatan pada DLH Aris Widjanarko. Menurutnya, dia telah berkoordinasi dengan Kementrian LH akan tetapi belum mendapatkan jawaban. 
 
“Setelah kami komunikasikan dengan kementrian, mereka bilang masih perlu kajian lebih dalam. Hal itu termasuk langkah untuk kembali turun ke lokasi pencemaran. Sehingga sampai kini, kami belum mendapatkan jawaban akan penyebab dan tindakan yang akan diambil,” tandas Aris. 


(ALB)