Penghuni Kota Lama Semarang Keluhkan Revitalisasi tak Selesai

Budi Arista Romadhoni    •    Jumat, 21 Dec 2018 19:30 WIB
revitalisasi
Penghuni Kota Lama Semarang Keluhkan Revitalisasi tak Selesai
Pekerja mengerjakan proyek pembangunan di kasawan Kota Lama, Semarang, Jumat, 21 Desember 2018, Medcom.id - Budi

Semarang: Proyek revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, berdampak pada eksistensi gedung-gedung tua. Selain tidak segera selesai, debu juga mengganggu penghuni Kota Lama.

Pengelola GPIB Immanuel atau Gereja Blenduk, Pendeta Hellen GF Luhulima Hukom, mengeluhkan debu-debu jalan mengotori bangunan cagar budaya peninggalan Belanda tersebut. 

"Banyak debu yang masuk ke dalam gereja. Apalagi kalau pas hujan deras, jalanan Kota Lama yang masih berantakan itu, lumpurnya sering menempel di tembok gereja," katanya di Semarang, Jumat 21 Desember 2018. 

Hellen mengungkapkan, dampak dari proyek revitalisasi Kota Lama sudah berlangsung tiga bulan terakhir. Ditambah datangnya musim hujan, akan menambah kondisi semakin memburuk. "Padahal, di sisi lain perawatan gedung tua juga tidak mudah," ujarnya. 

Kawasan Kota Lama yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda itu, saat ini telah masuk sebagai bangunan sejarah warisan unggulan nasional. 

"Sehingga, kami menyadari ini adalah aset nasional yang harus dilindungi dan dirawat dengan baik. Tetapi apa yang terjadi saat ini membuat kami kepayahan,"  terangnya. 

Lebih lanjut lagi,  Ia menyebut perubahan cuaca yang sangat drastis telah membuat kubah Gereja Blenduk mengalami korosi hampir semua bagian.

Ia mengaku,  kerap mengakali kerusakan yang terjadi pada kubah Gereja Blenduk dengan menambal memakai dana pribadi.

"Akhirnya kita tambal lah sana-sini. Karena pas hujan lebat sering bocor. Ada  pula beberapa bagian yang tampias jadiya air hujannya merembes masuk ke dalam gereja. Duitnya dari mana, ya pakai uang pribadi dari perkumpulan jemaat kami," tegasnya. 

Sementara itu perwakilan PT Amitas Jakarta, selaku konsultan proyek revitalisasi Kota Lama, Sonny Cahyo Bawono mengklaim proyeknya terpaksa molor hingga Mei 2019. 

"Karena ada masalah yang harus dibereskan. Masalah yang muncul dengan merubah desain pemasangan paving di Jalan Letjen Suprapto dan jalanan lainnya," jelasnya. 

Awalnya ia mengaku sudah mengerjakan pavingisasi dan pedestian dari Jalan Letjen Suprapto. Namun, dengan alasan kurang menarik dari segi estetika, maka Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meminta desainnya diganti memakai bebatuan alam.

Kemudian, dana anggaran mengalami perubahan, dari awalnya dianggarkan Kementerian PUPR Rp156 miliar. Kini melonjak menjadi Rp170 miliar. 

"Kami perlu ke BPK dan instansi lain sesuai peraturan perundang-undangan untuk merealisasikan pekerjaan selanjutnya," bebernya. 



(RRN)