Melihat Penetasan Telur Penyu di Karimunjawa

Rhobi Shani    •    Senin, 05 Nov 2018 17:09 WIB
satwa dilindungi
Melihat Penetasan Telur Penyu di Karimunjawa
Warga membawa telur penyu dalam ember untuk ditetaskan di Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa, Medcom.id - Rhobi Shani

Jepara: Legon Jaten berada di pantai sisi timur Pulau Karimun Besar, Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Di lokasi itu, pengelola Balai Taman Nasional Karimunjawa menetaskan telur penyu semialami.

Lokasi pusat penetasan telur penyu berjarak kurang lebih 10 menit dari Pelabuhan Karimunjawa dengan menggunakan kapal cepat. Atau, butuh waktu 15 menit berjalan kaki menyusuri hutan bakau dari Pantai Legin Lele.

Pusat penetasan telur penyu berada di lahan seluas 800 meter persegi. Selain bangunan gazebo dan pusat informasi, juga terdapat bangunan untuk menetaskan telur-telur penyu. Kondisi alam di lokasi ini masih cukup alami. Batu karang berukuran besar berada di sekitar lokasi penetasan telur. Begitu juga dengan aneka pepohonan berbagai ukuran, pun tumbuh subur.

Di Legon Jaten terdapat satu dermaga kayu. Itu digunakan untuk kapal nelayan bersandar. Kapal nelayan yang bersandar tidak untuk menurunkan ikan hasil tangkapan, melainkan untuk menurunkan telur-telur penyu hasil pencarian.

Jelang petang, satu kapal nelayan bersandar. Indra Kurniawan dan Sulaman bergegas menghampiri kapal nelayan tersebut. Sesaat kemudian, Kurniawan dan Sulaman dibantu Mantobiin, nelayan, mengeluarkan ember-ember berisi telur penyu dari atasa kapal. Satu persatu ember berisi telur penyu dibawa menuju ruang penetasan telur. 

Ember-ember berisi telur penyu ditata rapi. Indra Kurniawan lantas mengeluarkan buku catatan penerimaan telur dari nelayan. Di tiap ember diberi kertas bertuliskan tanggal penemuan telur. Sementara, Sulaman, petugas BTN membersihkan ruang penetasan.

“Kami juga catat dan nelayan yang menemukan telur di sini. Dari catatan ini nanti bisa diketahui kapan telur akan menetas,” ujar Kurniawan, penjaga pusat penetasan telur penyu BTN di Legon Janten sembari menunjuk ke papan Daftar Penemuan Sarang Penyu.   

Kurniawan melanjutkan, tiap ember penetasan telur penyu berisi 50 sampai 100 terlu penyu. setelah di simpan di ruang penetasan, dalam waktu dua bulan telur-telur akan menetaskan tukik. Potensi telur yang berhasil menetas sebanyak 80 persen.

“Tapi waktu menetasnya tidak bisa tepat dua bulan. Biasanya ada selisih waktu satu sampai tiga hari, jadi tidak pas 60 hari,” kata Kurniawan.

Disampaikan Kurniawan, tidak ada perawatan khusus agar telur-telur penyu berhasil menetas. Yang mesti diperhatikan adalah kelembaban pasir untuk penetasan. Jika pasir terlalu lembab, maka telur penyu akan rusak. Begitu juga ketika, telur-telur penyu terkena tangan manusia.

“Begitu ditemukan sarangnya, harus diambil beserta pasirnya. Kemudian, posisi telur harus sama seperti ketika ditemukan,” beber Kurniawan.

Setelah telur tukik menetas, Kurniawan menambahkan, lebih dulu ditempatkan beberapa hari di penangkaran tukik yang berada di samping dermaga Legon Jaten. Kemudian, tukik-tukik dilepasliarkan pada sore hari.

“Pelepasan tukik baiknya kalau hari sudah petang. Semakin petang atau malam malah semakin bagus,” pungkas Kurniawan.


(RRN)