Kasus Dugaan Pemerkosaan di UGM Berakhir Damai

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 04 Feb 2019 18:46 WIB
pemerkosaan
Kasus Dugaan Pemerkosaan di UGM Berakhir Damai
Kiri-kanan: Dekan Fakultas Teknik UGM, Nizam; Rektor UGM, Panut Mulyono; Wakil Rektor UGM Bidang Kerja Sama dan Alumni, Paripurna Sugarda; dan Dekan FISIP UGM, Erwan Agus Purwanto, saat konferensi pers penyelesaian kasus dugaan pemerkosaan secara damai. M

Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memutuskan penyelesaian secara damai atas kasus dugaan pemerkosaan terhadap mahasiswinya yang terjadi saat kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Maluku pada 2017 silam. Terduga pelaku, terduga korban, dan rektor menandatangani surat penyataan damai tersebut pada Senin, 4 Januari 2019. 

Rektor UGM, Panut Mulyono mengatakan para pihak telah dipertemukan di ruang rektorat untuk membahas penyelesaian kasus itu. Ia menyebut, kesepakatan penyelesaian dengan nonlitigasi atau damai itu dilakukan dengan kesungguhan hati, ikhlas, dan lapang. 

"Pelaku (HS, mahasiswa Fakultas Teknik) menyesal dan mengaku bersalah kepada N (korban, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/FISIP) disaksikan UGM. HS, N, dan UGM, menyatakan perkara ini sudah selesai," ujar Panut dalam konferensi pers di ruang Rektorat UGM pada Senin, 4 Januari 2019. 

Baca: Peluang Tipis Menuntut Keadilan dari UGM

Usai berdiskusi, kata Panut, keduanya dimintai tanda tangan surat nota kesepakatan bermaterai. Baginya, dokumen itu menjadi bukti sah kasus sudah dianggap rampung. 

Menurut Panut, HS wajib menjalani psikologis yang ditunjuk UGM atau yang dipilih sendiri hingga dinyatakan selesai oleh psikolog itu. Begitu juga dengan N. "UGM menanggung sepenuhnya dana konseling, baik yang dilakukan HS dan N," kata dia. 

Wakil Rektor UGM Bidang Kerja Sama dan Alumni, Paripurna Sugarda mengatakan rektorat bekerja berdasarkan hasil kinerja tim investigasi dan komite etik yang telah menyerahkan hasil kerjanya. Ia mengatakan UGM memang tidak membuka hasil kerja kedua tim itu. 

"Kami tidak membuka hasilnya karena untuk menjaga psikologis adik-adik kita semua," ujarnya. 

Baca: Mahasiswi UGM Korban Pemerkosaan Depresi Berkelanjutan

Paripurna mengklaim tak ada rekayasa hingga kasus itu bisa diselesaikan damai. HS dan N juga tak dipaksa dalam mengambil keputusan. 

Di sisi lain, lanjutnya, UGM tak menyimpulkan kasus yang sebenarnya terjadi apakah dugaan pemerkosaan atau pelecehan seksual. "Kami mendengarkan keinginan kedua mahasiswa dalam mengambil keputusan," ucapnya. 

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM, Erwan Agus Purwanto mengatakan proses pengambilan keputusan dilakukan dengan proses panjang. Kedua mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk mendapat pendampingan dari pihak masing-masing. 

"Secara rutin kami mengawal kasus ini. Ada tim, dosen pembimbing skripsi (N) dan dosen yang memiliki kedekatan. Kami juga menerima masukan tim hukum. Prosesnya panjang. Munculnya kesepakatan damai lewat proses secara sadar diambil N," katanya. 

Sementara, Dekan Fakultas Teknik UGM, Nizam, juga hadir dalam proses itu. "Penyelesaian nonlitigasi ini yang terbaik. Saya apresiasi kepada jajaran dekan dan rektorat," ujarnya. 
 


(ALB)