Surakarta Nihil Kasus Difteri sejak Lima Tahun Lalu

Pythag Kurniati, Mustholih    •    Rabu, 06 Dec 2017 19:26 WIB
klb difteri
Surakarta Nihil Kasus Difteri sejak Lima Tahun Lalu
Petugas menyuntikkan vaksin DT untuk mencegah anak-anak di Pamekasan, Jawa Timur, tertular difteri, 14 Desember 2016, Ant - Saiful Bahri

Solo:  Surakarta, Jawa Tengah, menjadi kota yang bebas dari kasus difteri. Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Surakarta Dwi Martyastuti, status tersebut diklaim terjadi sejak lima tahun lalu.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Kesehatan mendapatkan laporan 95 kabupaten di 20 provinsi menetapkan status kejadian luar biasa difteri. Difteri adalah penyakit yang terjangkit bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Gejalanya yaitu demam dan batuk. Serangan itu dapat mengakibatkan kelumpuhan, kerusakan permanen pada jantung dan ginjal, bahkan kematian.

Namun Surakarta, kata Dwi, bebas dari ancaman serangan bakteri tersebut. Selama lima tahun terakhir, ia mengaku Dinas Kesehatan tak mendapat laporan difteri.

Dinas, ujar Dwi, tak berdiam diri. Pemberian imunisasi tetap dilakukan. Dinas mencatat 9.777 bayi di Surakarta wajib mendapatkan imunisasi.

“Untuk bayi, vaksinnya adalah DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus),” imbuh dia.

Pemberian imuniasi lanjutan diberikan pada anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Dwi mengatakan imnusasi penting untuk menghalau serangan bakteri Corynebacterium diptheriae. Bakteri menyerang tubuh yang kekebalannya lemah seperti bayi, balita, dan anak-anak.

Di Surakarta, capaian imunisasi difteri di Surakarta hingga bulan Oktober 2017 sudah mencapai 80,9 persen. Angka itu lebih tinggi daripada target yang harus dicapai yakni 70,8 persen.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun mengandalkan pemberian imunisasi untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) difteri. Ketika mendapatkan laporan balita terinfeksi di Kota Semarang dan Kabupaten Karanganyar, pemerintah langsung melakukan tindakan.

"Tentunya kita lakukan pencegahan pada sekitarnya. Upaya yang dilakukan adalah mempertahankan cakupan imunisasi DPT-HB-Hib," kata Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Jateng Dokter Tatik Muharyati.

Imunisasi DPT-HB-Hib diberikan antara lain, agar anak memiliki kekebalan, antara lain, terhadap infeksi difteri dan hepatitis. Menurut Tatik, target imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi dan bayi usia dua tahun (baduta) di suatu wilayah harus mencakup 95 persen dari jumlah keseluruhan mereka.

Sedangkan cakupan imuniasi pada bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) pada kelas 1,2, dan 3 harus mencapai minimal 98 persen. "Cakupan di jateng DPT-HB-Hib adalah 98.5 persen dan cakupan BIAS adakah 99.43 persen. Artinya melebihi target," jelas Tatik.

Meski begitu, kata Tatik, potensi kasus difteri disebut bisa terjadi di 35 Kabupaten atau Kota se-Jateng. "Begitu kita nyatakan ada kasus difteri, kita berikan imunisasi di sekitar tempat tinggal di mana penderita itu ada. Sudah atau belum pernah dilakukan imunisasi tetap kita berikan imunisasi. Itu pencegahan supaya tidak melebar ke mana-mana," tegas Tatik.


(RRN)